Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petani Muda di Bondowoso Dituntut Punya Nilai Tawar untuk Perbaiki Tata Niaga Pertanian

Faqih Humaini • Rabu, 24 Desember 2025 | 12:55 WIB

MERAWAT: Petani saat merawat tanaman cabai agar kualitasnya memuaskan.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
MERAWAT: Petani saat merawat tanaman cabai agar kualitasnya memuaskan.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

RADAR JEMBER – Upaya memperkuat ketahanan pangan daerah terus didorong berbagai elemen.

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pemuda Tani Indonesia  Bondowoso menggagas pembentukan koperasi serba usaha dan shelter pangan mandiri sebagai langkah strategis memperbaiki tata niaga pertanian sekaligus meningkatkan posisi tawar petani muda.

Sekda Bondowoso Fathur Rozi menegaskan, penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi.

Menurutnya, tanpa pengelolaan pascapanen dan kelembagaan yang kuat, petani akan terus berada pada posisi lemah dalam rantai pasar.

“Hilirisasi dan kelembagaan adalah kunci agar nilai tambah dinikmati petani,” ujarnya.

Ia menilai pembentukan koperasi menjadi instrumen penting untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui koperasi, hasil pertanian dapat dikelola secara kolektif, mulai dari penyimpanan, pengolahan, hingga pemasaran.

Hal ini sekaligus membuka peluang integrasi dengan program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam forum itu, Pemuda Tani Indonesia Bondowoso merancang pembentukan Koperasi Pemuda Tani Indonesia yang diproyeksikan menjadi pemasok bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Bergizi (SPBG).

Pemerintah daerah, kata Fathur Rozi, siap memberikan pendampingan lintas sektor, termasuk dukungan uji laboratorium dan pemenuhan standar mutu pangan bersama Dinas Kesehatan.

Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Bondowoso, Kapriyanto, mengatakan forum ini menjadi ruang konsolidasi pemuda tani untuk keluar dari persoalan klasik pertanian.

Mulai dari harga panen yang fluktuatif, pasar yang tidak pasti, hingga keterbatasan modal, menurutnya harus dijawab dengan pendekatan kolektif.

“Pemuda tani harus berhenti berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberadaan shelter pangan memungkinkan petani tidak lagi terpaksa menjual hasil panen saat harga jatuh.

Dengan sistem penjualan kolektif melalui koperasi, petani memiliki ruang tawar yang lebih adil.

“Koperasi dan shelter pangan adalah fondasi kemandirian pemuda tani di Bondowoso,” pungkasnya. (faq/fid)

Editor : Adeapryanis
#petani muda #Bondowoso