Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Kunjung Ada Perbaikan, Inisiatif Para Pemuda Mimpikan Alun-alun Jadi Ikon Bondowoso, Kini Kondisinya Masih Kotor dan Gelap

Ilham Wahyudi • Minggu, 21 Desember 2025 | 21:49 WIB

 

SERIUS: Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Kulon Project membahas kondisi alun-alun RBA Ki Ronggo beberapa hari lalu.
SERIUS: Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Kulon Project membahas kondisi alun-alun RBA Ki Ronggo beberapa hari lalu.

DABASAH, Radar Ijen - Alun-alun Ki Bagus Asra, ruang publik yang semestinya menjadi wajah Bondowoso, justru memantik kegelisahan anak muda.

Sejumlah pemuda menyuarakan keresahan mereka terhadap kondisi alun-alun dalam diskusi Ruang Belajar Kolektif Kulon Project.

Keresahan itu datang dari hal-hal yang kasat mata, sekaligus dirasakan sehari-hari.

Mulai dari hutan kota yang gelap saat malam hari, genangan air yang menyerupai kolam ketika hujan turun, hingga tumpukan sampah di lapangan basket yang sempat viral di media sosial.

“Di lapangan basket itu sampahnya banyak banget,” ungkap Wildan Narayanto, fasilitator Kulon Project.

Tak berhenti di situ. Persoalan pedestrian yang tak ramah difabel juga menjadi sorotan. Jalur pejalan kaki dinilai belum inklusif bagi semua warga kota. Namun yang paling membuat frustasi, kata Wildan, adalah ketika warga ingin menyampaikan aspirasi.

Alih-alih mendapat jawaban jelas, yang muncul justru lempar tanggung jawab antarinstansi. “Sebagai masyarakat, kalau mau protes itu selalu ribet. Harus lapor ke siapa? Nggak jelas,” katanya.

Padahal, Alun-alun Ki Bagus Asra adalah ikon kota. Ruang publik di jantung Bondowoso itu menjadi cermin bagaimana kota ini memperlakukan warganya.

“Bondowoso ini sering studi banding ke luar daerah. Tapi kami bertanya, apa yang dilihat? Kenapa nggak jadi inspirasi untuk dibawa pulang?” ujarnya.

Diskusi itu tak berhenti pada keluhan. Para peserta juga diajak membedah persoalan tata ruang kota, perencanaan tapak, hingga membandingkan bagaimana kota-kota di luar negeri merancang pedestrian yang manusiawi dan inklusif.

Anak-anak muda itu bahkan diminta menggambar versi Alun-alun impian mereka. Gagasan-gagasan tersebut nantinya akan dirangkum menjadi sebuah grand design untuk kemudian dibahas lebih lanjut.

“Semua ide akan dirangkum, lalu didiskusikan lagi,” jelasnya.

Diskusi lanjutan direncanakan berlangsung dalam forum bertajuk Musrenbang Jalanan sekitar Januari 2026.

Seluruh proses akan didokumentasikan dalam bentuk teks dan visual, agar bisa diakses publik.

“Kami juga belum tahu nanti akan disebarkan ke mana. Tapi setidaknya ini bisa jadi masukan untuk pemerintah,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kritik, Wildan menegaskan bahwa forum ini bertujuan menumbuhkan kepekaan warga terhadap ruang hidup di sekitarnya.

“Ini soal membangun rasa peduli. Peka terhadap apa yang ada di sekitar kita,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Alun alun #Bondowoso