TENGGARANG, Radar Ijen - Seluruh perangkat daerah harus bergerak lebih cepat dalam mempersiapkan revalidasi UNESCO Global Geopark (UGG) Ijen tahun 2026.
Sejumlah fasilitas umum wisata yang berada di bawah naungan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso memang mulai dibenahi, namun kesiapan secara keseluruhan masih membutuhkan penguatan lintas sektor.
Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono menjelaskan, beberapa titik wisata sudah menunjukkan perkembangan positif, salah satunya di kawasan Pemandangan Arak-Arak yang proses pembaruannya telah rampung.
Namun, Sutriyono mengingatkan bahwa tantangan utama bukan hanya pada fisik destinasi, melainkan kesiapan operasional revalidasi yang akan menjadi fokus utama pada 2026.
“Operasional revalidasi ini membutuhkan catatan yang sangat detail sesuai penilaian asesor,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa unsur operasional tersebut mencakup beberapa komponen penting, terutama geoproduk.
Pada poin ini, sinergi dengan OPD lain seperti Diskoperindag menjadi sangat krusial untuk memastikan produk-produk lokal yang berhubungan dengan geopark dapat ditata dan dikembangkan sesuai standar UNESCO.
Sutriyono menegaskan bahwa tanpa penguatan sektor UMKM dan geoproduk, nilai tambah geopark tidak dapat dimaksimalkan.
Selain itu, sektor pendidikan juga berperan besar dalam revalidasi. Menurut Sutriyono, mulai akhir 2025 telah dilakukan pelatihan materi Ijen Geopark kepada para guru untuk memperkuat muatan lokal dalam kurikulum lembaga pendidikan.
Langkah ini dinilainya tepat, sebab keberhasilan geopark tidak hanya bergantung pada kawasan wisata, tetapi juga pada pemahaman masyarakat dan generasi muda terhadap nilai geologi, budaya, dan konservasi.
Ketua Komisi III itu juga menyoroti pentingnya pemberdayaan kelompok sadar wisata (pokdarwis) sebagai garda terdepan pengelolaan destinasi di tingkat lokal.
Ia menilai bahwa pokdarwis harus dipersiapkan secara matang, terutama terkait pelayanan, konservasi, serta pengelolaan wisata berbasis komunitas agar mampu mendukung keberlanjutan geopark.
Soal penunjang wisata, Sutriyono menegaskan perlunya percepatan koordinasi terkait kelengkapan rambu lalu lintas menuju destinasi wisata, yang harus disinkronkan dengan Dinas Perhubungan.
Ini penting agar wisatawan mendapat kemudahan akses dan navigasi selama berada di kawasan geopark.
Ia juga menyoroti infrastruktur jalan, terutama pada titik-titik yang kini mulai rusak seperti jalur Curah Macan menuju Kawah Wurung. Koordinasi dengan BSBK dinilai menjadi kunci agar perbaikan dapat segera dilakukan.
Di akhir komentarnya, Sutriyono menyayangkan kerusakan infrastruktur yang belakangan semakin sering terjadi akibat cuaca ekstrem. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah harus lebih responsif agar permasalahan tersebut tidak menghambat proses revalidasi UGG 2026.
“Kita sudah punya modal besar. Tinggal bagaimana seluruh OPD bergerak bersama, konsisten, dan tepat waktu. Jangan sampai kesempatan besar ini terhambat karena kurangnya kesiapan teknis,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi