SUGER LOR, Radar Ijen - Pemecahan kendi oleh Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i di depan sebuah truk, di Desa Suger Lor Kecamatan Maesan, menjadi tanda babak baru Kopi Robusta Bondowoso menembus pasar global.
Sebanyak 4 ton kopi robusta diekspor ke Australia.
Petani kopi lereng Hyang Argopuro, khususnya di kawasan Maesan, mulai menapaki pasar global. Produk kopi Robusta Hyang Argopuro resmi menembus Australia melalui ekspor perdana yang dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Doa Coffee Maesan.
Ketua KUB Doa Coffee sekaligus petani kopi, Dani Firsada, menjelaskan ekspor ini merupakan hasil dari rangkaian business matching yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI).
Melalui pertemuan tersebut, calon pembeli dari Australia menyampaikan letter of interest yang akhirnya berujung pada penandatanganan kontrak.
Pada tahap ini, Bondowoso mengekspor 4 ton kopi Robusta dalam bentuk green bean, dengan harga Rp 73.000 per kilogram. Dani menambahkan bahwa sebenarnya terdapat pula permintaan kopi Arabika.
Namun, musim panen telah berakhir sehingga hanya Robusta yang tersedia di gudang petani. “Tahun 2026 bisa tembus angka Rp 6,8 miliar. Itu pembayaran ekspor, beli tunai,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kopi Bondowoso dikirim bersama kopi dari berbagai daerah lain karena pihak Australia Brand Specialty ingin memperoleh kopi dengan karakter asli masing-masing wilayah, seperti Gayo dan Mandailing.
Satu kontainer khusus akan disiapkan berisi kopi dari sejumlah daerah tersebut.
Dani menegaskan bahwa ekspor ini akan tetap menggunakan brand Kopi Bondowoso, bukan nama daerah lain.
Pihak pembeli dari Australia bahkan mengirimkan karung khusus dengan kode lengkap, mulai dari kode negara, provinsi, kabupaten hingga kode identitas petani.
“Detail sekali, semuanya terekam. Kita tidak bisa lagi dibohongi soal asal kopi,” imbuhnya.
Menurut Dani, langkah ekspor ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh elemen sektor kopi, mulai petani hingga pekerja kebun.
Saat ini, upah buruh panen kopi di Maesan mencapai Rp 100.000 per hari atau Rp 50.000 untuk kerja setengah hari, yang dinilai sudah berada di atas standar UMR Bondowoso yang sekitar Rp 2 jutaan.
“Mudah-mudahan harga kopi terus naik, mutunya meningkat, dan semua dari hulu hingga hilir bisa merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi