DABASAH, Radar Ijen - Pemkab Bondowoso menegaskan bahwa meskipun kondisi fiskal daerah sedang tertekan akibat penurunan transfer pusat, pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama.
Hal ini karena masyarakat di Bondowoso terus mendesak agar perhatian terhadap konektivitas dan fasilitas dasar tidak dikesampingkan.
Sekda Bondowoso, Fathur Rozi menjelaskan, pemerintah daerah telah menetapkan program RANTAS (Ruas Jalan Tuntas) sebagai wujud komitmen untuk memperbaiki dan membangun jalan-jalan vital.
Namun pelaksanaan program tersebut harus diselaraskan dengan kondisi keuangan daerah yang semakin menantang.
“Infrastruktur itu tetap prioritas... Tapi hari ini kita tidak bisa menutup mata: transfer ke daerah mengalami pengurangan, baik DAU maupun Dana Desa. Artinya kemampuan fiskal kita tertekan,” ujarnya.
Di tengah tekanan fiskal, Fathur menekankan pentingnya efisiensi dan seleksi ketat terhadap proyek yang akan dijalankan.
Pemerintah kini harus lebih jeli memilih mana program yang mendesak dan berdampak luas, mana yang bisa ditunda.
Dia menyebutkan bahwa fokus tidak hanya pada jalan saja, tetapi juga pada pembangunan manusia, pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi, dan pertanian sesuai kebutuhan masyarakat.
Fathur menjelaskan bahwa upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi bagian dari strategi untuk menutup gap pendanaan akibat berkurangnya transfer pusat.
Namun, peningkatan PAD bukan berarti menaikkan tarif pajak, melainkan mendorong realisasi pembayaran, khususnya dari sektor seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Dia menegaskan bahwa penggunaan anggaran harus tepat sasaran agar pembangunan dapat terus berjalan tanpa membebani masyarakat.
Menurutnya pula, pembangunan tidak boleh hanya diukur dari jumlah proyek fisik yang selesai.
Pemerintah daerah harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan dan manfaat jangka panjang.
"baik untuk konektivitas, mobilitas warga, kemudahan layanan publik, maupun pertumbuhan ekonomi lokal," katanya.
Fathur juga mengapresiasi peran legislatif (DPRD) yang terus mengawal program-program infrastruktur meskipun kondisi fiskal sulit.
Kolaborasi erat antara eksekutif dan legislatif disebutnya sebagai fondasi agar pembangunan bisa tetap berjalan, namun dengan prioritas yang jelas dan transparansi dalam penggunaan anggaran.
Meski diakui akan sulit menyelesaikan seluruh kebutuhan infrastruktur secara bersamaan, Fathur yakin bahwa dengan strategi realistik, penyusunan prioritas matang, dan pengelolaan anggaran cermat, Bondowoso tetap dapat bergerak maju.
Ia meminta dukungan seluruh elemen masyarakat agar proses pembangunan berjalan dengan baik, dan manfaatnya benar-benar dirasakan. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi