RADAR JEMBER - Suasana balai benih induk (BBI) di Desa Sumber Wringin, Rabu (26/11), tampak lebih ramai dari biasanya.
Sejak pagi, para peternak datang bergantian membawa sapi dan kambing mereka.
Pemkab Bondowoso menggelar pelayanan pengobatan massal, sambil melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aset BBI yang ada di wilayah itu.
Langkah jemput bola ini bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ini adalah upaya percepatan pemulihan sektor peternakan yang sempat terpukul berat akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Banyak peternak kehilangan ternak, kehilangan semangat, bahkan ada yang memilih menyuntik mati hewan mereka karena tak sanggup menanggung dampaknya.
Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i, menegaskan, kondisi peternakan saat ini tak lagi sederhana. Ancaman penyakit, harga pakan yang tak stabil, hingga kualitas bibit yang harus terus ditingkatkan membuat intervensi pemerintah perlu dilakukan lebih agresif.
“Program seperti ini sangat penting, apalagi untuk wilayah yang aksesnya menantang,” ujarnya.
Karena itu, pelayanan kesehatan hewan ini dibarengi dengan pemeriksaan aset BBI, sarana penting yang menjadi dapur produksi bibit unggul.
Pemerintah ingin memastikan semua fasilitas tetap optimal untuk menunjang kebutuhan peternak.
Hingga akhir tahun, Disnakkan menargetkan layanan kesehatan bagi 600 ekor ternak dan lebih dari 100 peternak.
Program ini digelar di enam lokasi berbeda agar manfaatnya merata.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Herdri Widotono, mengakui bahwa hantaman PMK membuat banyak peternak sempat kehilangan arah.
Pemerintah akhirnya menyiapkan strategi khusus: pendampingan teknis, penyuntikan dana, serta program perbaikan kualitas ternak.
“Banyak yang terpukul. Ada yang takut memulai lagi. Di sinilah pemerintah hadir, agar mereka bangkit dan termotivasi,” tegasnya.
Di lapangan, dokter hewan, paramedis veteriner, dan penyuluh bekerja cepat.
Satu per satu ternak diperiksa, diobati, dan dicatat kondisinya.
Peternak juga diberi kesempatan menyampaikan keluhan mulai pakan mahal, penyakit musiman, hingga kebutuhan bibit yang lebih unggul.
Untuk daerah seperti Sumber Wringin, dengan banyak peternak rakyat dan akses cukup menanjak, model pelayanan seperti ini dianggap paling efektif.
Selain mendapatkan layanan kesehatan, para peternak juga mendapat edukasi dan pembinaan teknis yang selama ini sulit mereka akses.
Program ini diharapkan menjadi titik balik, agar peternak kembali percaya diri mengembangkan usaha mereka.
Terutama karena Bondowoso ditargetkan menjadi sentra ternak yang sehat, produktif, dan mampu menopang ekonomi daerah.
“Kalau kesehatan ternak kuat, peternaknya kuat, ekonomi daerah juga ikut bergerak,” pungkasnya. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis