Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Manajemen Wisata Desa di Bondowoso Ini Terus Kembangkan Inovasi, Mulai Belajar Kelola Sampah Secara Mandiri

Ilham Wahyudi • Jumat, 28 November 2025 | 13:35 WIB
DIPILAH: Konsultan Manajemen Sampah Indonesia Menuju Hijau (IMH) Ahmad Fadli Ridwan bersama pengelola Teduh Glamping memilah sampah yang dapat diolah.
DIPILAH: Konsultan Manajemen Sampah Indonesia Menuju Hijau (IMH) Ahmad Fadli Ridwan bersama pengelola Teduh Glamping memilah sampah yang dapat diolah.

SUMBER WRINGIN, Radar Ijen - Di balik rindangnya hutan Sumberwringin dan ramainya kunjungan wisata, ada satu masalah yang tak pernah benar-benar selesai, yakni sampah.

Setiap akhir pekan, saat tenda-tenda di Teduh Glamping penuh dan sendang menjadi tempat favorit mandi wisatawan, volume sampah melonjak drastis.

Hingga lima kwintal per minggu, angka yang tak kecil untuk desa yang jauh dari kota.

Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di lokasi wisata ini berjalan dengan pola lama, pisah organik dan anorganik, lalu kirim ke TPA atau pengepul.

Selesai. Tidak ada tahapan pengolahan lanjutan, tidak ada pemanfaatan kembali.

“Selama ini hanya dipisah jadi dua dibuang ke TPA saja,” ujar Hendriyanto, Ketua Pokdarwis Sumberwringin.

Namun gelar juara 5 Lomba Desa Wisata Bersih Jawa Timur 2025 menjadi titik balik.

Sebuah kebanggaan, tapi sekaligus tamparan halus, kalau ingin naik kelas, pengelolaan sampah harus berubah total.
Konsultan Manajemen Sampah Indonesia Menuju Hijau (IMH) Ahmad Fadli Ridwan, volume sampah yang dihasilkan Teduh Glamping sebenarnya sangat besar untuk destinasi desa.

Dalam sepekan bisa mencapai lima kwintal. “Rata-rata 1 hari 80–70 kilogram, campur organik dan anorganik,” jelasnya.

Mayoritas berasal dari dua sumber, pengunjung dan daun-daun hutan yang mengitari area glamping. Artinya, semakin ramai wisata, semakin besar pula sampah yang ditimbulkan.

Jika terus mengandalkan TPA, cepat atau lambat masalahnya akan kembali ke desa.

Pendampingan dari IMH mengubah pola itu. Semua sampah organik kini dicacah manual menggunakan golok. Potongan kecil itu kemudian dimasukkan ke lubang kompos berdiameter satu meter dan kedalaman setengah meter.

“Pupuk kompos masih proses nunggu 2–3 minggu. Sekarang dibuatkan 2 sampai 3 lubang lagi,” ujarnya.

Untuk limbah buah-buahan, IMH memberikan perlakuan berbeda. Alih-alih dicampur dengan sampah lain, buah dipisah karena memiliki enzim yang cocok untuk fermentasi. Hasilnya adalah pupuk cair, produk bernilai ekonomis yang selama ini belum pernah tersentuh oleh pengelola.

Hendriyanto mengaku saat ini pupuk kompos dan pupuk cair baru untuk kebutuhan sendiri. Namun jika produksinya stabil dan rutin, tidak menutup kemungkinan akan menjadi unit usaha baru di bawah BUMDes.

“Ya akan dijual, sekarang dipakai sendiri dulu,” pungkasnya. (ham/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#teduh glamping bondowoso #Bondowoso