IJEN, Radar Ijen - Rasa takut, was-was, hingga tekanan psikis kini menyelimuti para buruh kebun PTPN di Kecamatan Ijen.
Mereka bukan hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga kehilangan rasa aman ketika bekerja di ladang kopi yang selama ini menjadi sumber nafkah. Bahkan sampai saat ini, mereka merasa tidak aman dalam bekerja setiap harinya.
Salah satu buruh kebun berinisial JT, bahkan tak kuasa menahan tangis saat mendapati tanaman kopi yang ia rawat sejak awal justru habis ditebang oleh orang tak dikenal (OTK).
“Mau panen mereka potong-potong. Nelangsa rasanya, Perjuangan sudah selesai, tinggal panennya. Pas tahu dipotong, ya nangis semuanya,” ujarnya, kemarin (26/11).
Tekanan itu meningkat usai perusakan terakhir pada 17 November 2025. Para buruh sempat berhenti bekerja selama dua hari, membuat pendapatan mereka menurun.
Biasanya mereka menerima upah borongan Rp 50 hingga Rp 70 tiap harinya yang dibayarkan dua minggu sekali. Kini, mereka hanya diminta membersihkan batang-batang kopi yang telah ditebang.
“Baru hari ketiga kerja lagi. Tapi ya bukan merawat, cuma bersihkan sisa yang dipotong,” tambahnya.
Buruh lain, berinisial SY, mengaku ketakutan untuk menyulam ulang tanaman yang rusak karena adanya intimidasi dari oknum tertentu. Mereka akhirnya hanya bisa menunggu alokasi kerja di blok lain yang lahannya terbatas. Kondisi itu membuat pendapatan mereka semakin tergerus. “Bisa tetap kerja, tapi areal berkurang. Pendapatan ikut berkurang,” katanya.
Ia menambahkan, kini warga dan buruh kebun terpaksa ronda malam di kebun karena khawatir perusakan kembali terjadi. “Biasanya tidur enak malam, sekarang harus jaga. Sampai kapan kami begini,” keluhnya. (faq/bud)
Seakan Jadi Bom Waktu
KERUSAKAN tanaman kopi PTPN di Ijen seakan menjadi bom waktu yang bisa saja melutus kapan saja. Tercatat kerusakan tanaman kopi itu terus meningkat sejak 2023. Total 175.399 batang di lahan seluas 94 hektar telah dirusak oleh OTK, dengan kerugian mencapai Rp 6,4 miliar.
Jumlah itu belum termasuk potensi hasil panen yang hilang jika tanaman tersebut dibiarkan tumbuh. Perusakan pertama pada September 2023 menimpa 716 batang kopi. Pada Maret 2025, sebanyak 1.152 pohon kembali ditebang.
Rentetan perusakan kian masif sepanjang 2025. Pada 12 Oktober 2025, sedikitnya 6.661 pohon berusia tiga tahun ditebang OTK di Desa Kaligedang, dengan kerugian sekitar Rp 400 juta. Berlanjut pada 18 Oktober 2025, sebanyak 30 pohon kembali dirusak di Afdeling Kampung Malang, Kecamatan Ijen.
Tak sampai sebulan kemudian, tepatnya 5 November 2025, tercatat 20.190 batang tanaman kopi kembali ditebang di lahan PTPN.
Situasi memanas itu turut memicu rentetan ketegangan antara warga dan aparat. Pada 15 Mei 2025, tiga anggota TNI sempat bergesekan warga dalam sebuah insiden di wilayah Ijen.
Ketegangan serupa terulang di Polsek Sempol, ketika kantor polisi itu digeruduk warga terkait penangkapan seorang petani. Kericuhan itu bahkan berujung aksi penurunan bendera merah putih di halaman polsek.
Puncak eskalasi atau bom waktu itu akhirnya pecah. Tepatnya terjadi pada Senin (17/11) lalu, ketika Kapolsek Ijen, Iptu Suherdi, ditarik paksa dan dibawa warga ke Desa Kaligedang setelah terjadi dorong-dorongan antara warga dan kepolisian.
Warga disebut ingin meminta penjelasan terkait penangkapan seorang petani. Peristiwa itu menambah ketakutan buruh kebun yang sehari-hari bekerja tanpa perlindungan.
“Kapolsek saja digituin, tentara juga digituin. Apalagi kami yang cuma pekerja, gak bawa apa-apa,” pungkas SY, menggambarkan ketidakpastian yang kini menghantui seluruh pekerja kebun di Ijen. (faq/bud)
Grafis Kasus Perusakan Kopi PTPN di Ijen
- Total Kerusakan Tanaman, Sebanyak 175.399 batang kopi rusak di lahan 94 hektar sejak 2023–2025.
- Kerugian Finansial, PTPN mencatat kerugian mencapai Rp 6,4 miliar, belum termasuk potensi panen.
- 3.500 Pekerja Alami Tekanan Psikis, Buruh menangis dan mengalami stres karena tanaman yang dirawat sejak awal habis ditebang.
- Hilangnya Sumber Nafkah, Perusakan membuat buruh berhenti bekerja selama 2 hari, mengurangi pendapatan.
- Sistem Upah Borongan, Upah buruh: Rp 50 hingga 70 ribu perhari dengan tambahan bila prestasi lebih.
- Pengalihan Areal Kerja, Buruh takut menyulam kembali karena intimidasi, sehingga dipindah ke blok lain yang arealnya terbatas.
- Pendapatan Kian Menurun, Lahan kerja terbatas menyebabkan pendapatan buruh semakin berkurang.
- Warga Ronda Malam, Untuk mencegah perusakan baru, warga dan buruh berjaga di kebun setiap malam.
- Rasa Aman Menghilang, Buruh bekerja dengan rasa takut, karena aparat pun pernah menjadi korban intimidasi.
- Perusakan Pertama (2023), Awal September 2023: 716 tanaman kopi dirusak OTK.
- Perusakan Lanjutan (2025), Maret 2025: 1.152 pohon kembali ditebang OTK.
- Perusakan Massif (Oktober 2025), 12 Oktober 2025: 6.661 pohon usia tiga tahun ditebang, kerugian sekitar Rp 400 juta.
- Perusakan Berturut (Oktober 2025), 18 Oktober 2025: 30 pohon dirusak di Afdeling Kampung Malang.
- Perusakan Terbesar (November 2025), 5 November 2025: terjadi perusakan 20.190 batang di lahan PTPN.
- Eskalasi Konflik dengan Aparat, Kapolsek Ijen Iptu Suherdi dibawa warga pada 17 November 2025, setelah sebelumnya terjadi penggerudukan Polsek Sempol, kemudian sempat terjadi gesekan juga antara warga dengan 3 anggota TNI.
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Editor : M. Ainul Budi