Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pemkab Bondowoso Gelar Peringatan Gerbong Maut, Ini Pesan Penting dari Bupati Abdul Hamid

Faqih Humaini • Selasa, 25 November 2025 | 04:40 WIB
BERBARIS: Sejumlah ASN saat mengikuti upacara peringatan tragedi gerbong maut, (24/11)
BERBARIS: Sejumlah ASN saat mengikuti upacara peringatan tragedi gerbong maut, (24/11)

DABASAH, Radar Ijen - Bondowoso kembali memperingati Tragedi Gerbong Maut 23 November 1947, sebuah peristiwa kelam kemanusiaan yang merenggut puluhan nyawa pejuang lokal.

Upacara digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati Indonesia hari ini dibayar dengan pengorbanan besar para pahlawan.

Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid,  menekankan urgensi penguatan wawasan kebangsaan di tengah perubahan zaman. Ia menyebut tragedi bersejarah tersebut sebagai cermin untuk menilai kembali ketangguhan masyarakat dalam mempertahankan persatuan.

"Menjadi pengingat agar warga Bondowoso selalu menjaga persatuan," bebernya.

Menurut Bupati Hamid, derasnya arus informasi dan cepatnya perkembangan teknologi digital kerap membawa tantangan baru berupa disrupsi nilai dan potensi perpecahan. Karena itu, masyarakat membutuhkan fondasi kebangsaan yang kokoh agar tidak mudah terprovokasi.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Tragedi Gerbong Maut menunjukkan betapa kuatnya persatuan para pejuang kala itu.

Mereka berada dalam ruang sempit, gelap, dan tak berdaya, tetapi tetap bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang demi menjaga martabat bangsa.

Bupati Hamid mengajak generasi muda menjadikan peringatan ini sebagai refleksi bahwa perjuangan hari ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, melainkan menjaga moralitas, memperkuat solidaritas, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi informasi.

“Peringatan ini mengandung pesan yang sangat relevan dengan situasi bangsa saat ini,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat mendoakan para pejuang yang gugur dalam tragedi tersebut. Dari sekitar 100 orang yang dimasukkan ke gerbong, tercatat 46 meninggal dunia, dengan gerbong pertama berisi 38 pejuang yang seluruhnya tak selamat. Peristiwa itu kini menjadi bagian penting dari sejarah Bondowoso.

“Ketika para pejuang dikumpulkan dalam gerbong yang sempit dan gelap, tidak ada lagi perbedaan suku atau kelompok. Yang ada hanyalah semangat mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsa,” ucapnya.

Untuk mengenang pengorbanan mereka, pemerintah daerah membangun Monumen Gerbong Maut yang berdiri di selatan Alun-Alun Raden Bagus Assra Bondowoso, menjadi simbol perjuangan sekaligus pengingat agar nilai-nilai kebangsaan terus dijaga lintas generasi. (faq)

Editor : M. Ainul Budi
#Abdul Hamid #Gerbong Maut #Bondowoso