DABASAH, Radar Ijen - Di tengah lesunya industri rokok dan ancaman PHK yang terus membayangi, para buruh di Bondowoso pagi itu menghela napas sedikit lega. Satu per satu, mereka menerima amplop bantuan yang dinanti, BLT DBHCHT tahap kedua.
Sebuah jeda kecil di tengah ketidakpastian, ketika dapur tetap harus mengepul dan kebutuhan rumah tak bisa menunggu.
Pemkab Bondowoso kembali menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) tahap kedua bagi buruh pabrik rokok dan pekerja yang terdampak PHK. Penyaluran berlangsung di Desa Jumpong, Kecamatan Wonosari, Selasa (18/11) lalu.
Hal itu menjadi harapan baru di tengah dinamika industri pertembakauan yang kian menekan pekerja sektor ini.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan bahwa BLT ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengembalikan manfaat dana cukai kepada kelompok yang paling terdampak.
“Program ini adalah upaya pemerintah untuk mengurangi beban ekonomi kelompok masyarakat rentan serta mendorong pembangunan kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Menurut data Dinas Sosial P3KB, tahap kedua BLT DBHCHT menyasar 71 penerima, terdiri atas buruh pabrik rokok aktif dan buruh yang terkena PHK. Mereka berasal dari dua perusahaan rokok di Bondowoso dan Wringin.
Setiap buruh menerima Rp 600 ribu, akumulasi bantuan dua bulan sebesar Rp300 ribu per bulan. Penyaluran dilakukan oleh PT Pos Indonesia langsung di lokasi pabrik.
Bupati Hamid kembali mengingatkan agar penyaluran dilakukan bersih tanpa pungutan.
“Semua pihak harus mengawal jalannya penyaluran agar dipastikan berjalan baik dan lancar,” tegasnya.
Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, dr Moh Imron menjelaskan, penyaluran di tahap kedua ini melibatkan dua perusahaan rokok satu di wilayah kota dan satu di Kecamatan Wringin.
"Total tahap kedua ini sebanyak 71 buruh pabrik rokok,” ungkapnya.
Sebelumnya, BLT DBHCHT tahap pertama sudah tuntas disalurkan kepada 7.566 buruh dari 31 pabrik rokok.
Penyaluran tahap kedua muncul setelah proses verifikasi dan validasi menunjukkan adanya pabrik yang masih memenuhi syarat tambahan.
“Tahap pertama sudah selesai. Nah, untuk tahap kedua ini sebenarnya kami mengajukan tiga perusahaan, namun setelah verval hanya dua yang dapat diproses pada tahap ini,” jelasnya.
Pria asli Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini juga menjelaskan bahwa rencana awal hanya satu kali penyaluran. Namun, sisa anggaran memungkinkan perluasan penerima.
“Awalnya kami merencanakan hanya satu kali penyaluran. Namun karena masih ada anggaran, kemudian kami susulkan penambahannya di tahap ini,” jelasnya.
Secara total, BLT DBHCHT Bondowoso tahun anggaran 2025 menghabiskan hampir Rp 5 miliar, mencakup buruh aktif hingga buruh yang terkena PHK selama masih memenuhi persyaratan. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi