radarjember.id - Pengelolaan Ijen Geopark menjelang fase revalidasi UNESCO pada 2026 mulai dioptimalkan.
Kompleksitas kawasan yang melibatkan lintas wilayah dan beragam aspek konservasi membuat pengelolaan tidak bisa dilakukan secara sektoral.
Oleh karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci keberlanjutan geopark yang kini berstatus UNESCO Global Geopark.
Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtias, menegaskan bahwa Ijen tidak boleh dikelola secara terpisah-pisah.
“Ijen Geopark tidak bisa dikelola sendiri-sendiri. Pengelolaannya harus melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat karena ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Tantri kemudian menjelaskan struktur pengelolaan Geopark Ijen yang melibatkan tim teknis dari 16 OPD dan para penjaga situs.
Setiap unsur, katanya, memiliki tugas yang berbeda berdasarkan pilar geopark, yakni konservasi, edukasi, penelitian, serta pengembangan ekonomi berbasis ekologi dan geologi.
Dengan skema itu, setiap program ditujukan agar berjalan terintegrasi sesuai karakter kawasan.
Ia menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam pengembangan kawasan, mengingat karakter geologi, biologi, dan ekologi antara Banyuwangi dan Bondowoso berbeda.
Karena itu, pengembangan geopark harus mengacu pada kajian edukatif dan keilmuan agar tetap menjaga keberlanjutan alam dan budaya Ijen.
Tantri juga menyoroti pentingnya branding dan visibilitas. Menurutnya, program yang dirancang sebaik apa pun tidak akan memberikan dampak jika tidak dikenal publik.
Ia mengingatkan, saat ini terdapat 12 geopark di Indonesia, dan hingga 2029 seluruh pengelola dituntut meningkatkan kualitas secara berkelanjutan sebagai bentuk tanggung jawab nasional.
Dalam paparannya, ia mengurai perjalanan panjang Ijen hingga diakui sebagai UNESCO Global Geopark.
Status itu diraih setelah melewati tahapan Geopark Nasional pada 2020, asesmen pada 2022, dan pengesahan UNESCO pada Mei 2023.
Kini, Ijen memasuki fase revalidasi 2026, dengan dokumen dosier dan self-assessment yang telah direview sejak Juli 2025.
PHIG, kata Tantri, juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, KNGI, dan Badan Geologi terkait pemenuhan seluruh persyaratan.
Ia menambahkan bahwa edukasi menjadi bagian paling penting dari agenda geopark.
Hingga 2025, sebanyak 160 lembaga pendidikan telah mengintegrasikan geopark ke dalam kurikulum, dari PAUD hingga SMA.
Sekolah dan akademisi turut aktif melaksanakan program konservasi, pelatihan guru, workshop, bio-education, hingga kegiatan geotalk dan geo-practic yang melibatkan masyarakat serta komunitas budaya sebagai penguatan identitas Ijen Geopark. (faq/fid)
Editor : Adeapryanis