Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

WNA Mulai Kenalkan Teknologi Pertanian Modern Di Bondowoso Untuk Permudah Petani

Ilham Wahyudi • Rabu, 19 November 2025 | 12:04 WIB

FOKUS: Sejumlah siswa dan petani mendengarkan penjelasan dari pilot drone sprayer di sawah milik warga Sumber Wringin.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
FOKUS: Sejumlah siswa dan petani mendengarkan penjelasan dari pilot drone sprayer di sawah milik warga Sumber Wringin.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

radarjember.id - Hamparan sawah di Sumber Wringin tiba-tiba berubah seperti arena demonstrasi teknologi.

Belasan petani dan pelajar berkumpul, bukan untuk mencangkul atau menanam, tetapi belajar menerbangkan drone penyemprot pupuk dan pestisida.

Petani dan pelajar di Desa/Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso, mendapat pengalaman berbeda.

Mereka belajar menerbangkan drone yang digunakan untuk menebar pupuk dan pestisida, teknologi pertanian yang kini mulai merambah ke pelosok Bondowoso.

Pengenalan teknologi modern itu dibawa langsung oleh seorang warga negara Taiwan, Hsu Shu Min, Owner Sahabat Petani Tech.

Di bawah sinar matahari siang, mereka mempraktikkan pengoperasian drone penyemprot dengan menyemprotkan air di atas hamparan lahan seluas 2 hektar.

Menurut Hsu Shu Min, penggunaan drone menjadi lompatan besar bagi dunia pertanian.

Drone dapat menyelesaikan pekerjaan hingga 20 kali lebih cepat dibanding metode manual. “40 menit 2 hektar,” jelasnya.

Drone yang menggunakan baterai pintar itu juga disebut mampu menghemat sekitar 30 persen penggunaan pestisida.

Sebab, penyemprotan jauh lebih merata dan cepat dibandingkan cara tradisional.

Selain efisien, penggunaan drone sprayer juga mengurangi risiko paparan bahan kimia berbahaya bagi petani.

“Kapasitas drone ini 20–50 liter. Tapi kita coba di Cina dan Taiwan yang paling efektif yakni 20 liter,” terangnya.

Agus Haryadi, petani asal Sumberwringin, menyebut teknologi ini sebagai bentuk transformasi pertanian yang harus dikejar.

Ia menilai petani tak lagi cukup bergantung pada kultur konvensional, tetapi harus beradaptasi dengan era digitalisasi.

Setelah menjajal drone sprayer, Agus mengaku terkejut dengan hasilnya.

Untuk menyemprot pestisida atau pupuk cair di lahan 1 hektar, drone hanya butuh waktu 30 menit.

“Sangat jauh efisien. Kalau dengan konvensional perbandingannya 3 jam konvensional, drone 30 menit,” jelasnya.

Meski ia menyadari teknologi ini masih mahal dan belum semua petani mampu mengadopsinya, Agus menilai manfaatnya sangat sebanding.

“Ini baru pertama kali di Sumberwringin (penggunaan drone sprayer, red),” katanya.

Tak hanya petani, sejumlah pelajar jurusan pertanian juga ikut mencermati proses kerja drone tersebut. Mereka antusias bertanya tentang fungsi, cara operasi, hingga keunggulan teknologinya.

Pihak penyelenggara berharap kehadiran drone mampu menarik minat anak muda agar tidak takut terjun ke dunia pertanian, sektor yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. (ham/fid)

 

Editor : Adeapryanis
#Pertanian Modern #drone #Bondowoso