CERMEE, Radar Ijen - Bondowoso tengah menapaki babak baru dalam sejarah pembangunan ekonominya. Setelah sukses mengangkat potensi kopi dan pariwisata Ijen, kini giliran sektor peternakan yang mulai digenjot.
Dengan populasi sapi mencapai 145 ribu ekor, Bondowoso kini menempati 10 besar kabupaten dengan populasi sapi terbesar di Jawa Timur. Namun di balik capaian itu, masih banyak pekerjaan rumah yang menuntut keseriusan lintas sektor.
Langkah awal menuju cita-cita besar itu dimulai dari Desa Bajuran, Kecamatan Cermee, tempat Bupati Abdul Hamid Wahid meluncurkan kegiatan pengobatan ternak massal, Senin (10/11/2025). Acara sederhana itu sejatinya menjadi simbol: Bondowoso siap meneguhkan diri sebagai lumbung ternak Jatim.
“Kita berharap upaya menjadikan Bondowoso sebagai lumbung ternak dapat dimulai dari sini dengan langkah-langkah sinergis,” ujarnya.
Menurut data Dinas Peternakan dan Perikanan, Kecamatan Cermee menyumbang sekitar 10 persen dari total populasi sapi di Bondowoso. Di Desa Bajuran sendiri, ada sekitar 1.200 ekor sapi, sedangkan di Cermee secara keseluruhan mencapai 15 ribu ekor.
Namun, jika dilihat dari sisi nilai tambah, kontribusi sub-sektor peternakan terhadap PDRB daerah baru sekitar 5 persen.
Padahal, secara kuantitatif potensinya bisa jauh lebih besar bila dikelola dengan pendekatan industri. Sektor pertanian memberi kontribusi 29,35 persen terhadap PDRB daerah, dengan sub-sektor peternakan menyumbang hampir 5 persen.
“Ini menunjukkan bahwa peternakan memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bondowoso adalah ketergantungan pada pakan dan bibit dari luar daerah.
Banyak kelompok peternak masih mengandalkan pola tradisional, sementara ketersediaan pakan hijauan dan konsentrat belum merata.
Selain itu, penguatan sumber daya manusia (SDM) peternakan juga menjadi kunci.
Peternak masih minim pelatihan manajemen ternak modern, termasuk pencatatan reproduksi, pola pakan, hingga kesehatan hewan.
Bondowoso kini mulai menggeser paradigma peternakan dari individu ke kolektif. Bupati Hamid menyebut, pengembangan berbasis BUMDes dan koperasi desa akan menjadi jalan baru menuju kemandirian peternak.
“BUMDes Bajuran saat ini tengah mengelola 1.000 ekor ayam yang ditargetkan berkembang menjadi 10.000 ekor, serta pengembangan ternak kambing,” jelasnya.
Potensi itu dinilai bisa menjadi embrio bagi ekosistem baru, rantai nilai peternakan dari desa. Apalagi jika dikombinasikan dengan pengolahan hasil, seperti susu kambing etawa, pupuk organik, atau daging olahan.
“Dari proses ini kita ingin melahirkan tradisi, keterampilan, dan jejaring peternakan yang kuat,” tambahnya.
Bupati Hamid menyadari, membangun peternakan modern tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Karenanya, Pemkab tengah menjajaki kolaborasi dengan BUMDes, koperasi desa, dan lembaga pembiayaan mikro.
“Pembangunan sektor peternakan tidak hanya bergantung pada APBD, namun dapat diperkuat melalui kolaborasi dengan BUMDes, koperasi desa, hingga skema pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Visi besar itu kini mulai digerakkan. Pemerintah daerah menargetkan program Bondowoso Lumbung Ternak 2030, dengan Cermee dan Bajuran sebagai pilot project.
“Saya berharap Bondowoso lumbung ternak Jawa Timur, lumbung ternak Indonesia, bisa dimulai dari Bajuran, bisa dimulai dari Cermee,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi