Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bajuran Siap Jadi Sentra Peternakan Modern, Genjot Rantai Pasok hingga Dukung Peternak Warga Bondowoso

Ilham Wahyudi • Minggu, 16 November 2025 | 15:46 WIB

 

MELIMPAH: Salah seorang warga membawa hewan ternaknya untuk mendapat pengobatan gratis.
MELIMPAH: Salah seorang warga membawa hewan ternaknya untuk mendapat pengobatan gratis.
 

Ratusan ternak diangkut ke lapangan Desa Bajuran, Cermee.

Pemerintah turun tangan langsung memberi pelayanan, dari pengobatan massal, pemeriksaan kesehatan, hingga program embrio transfer—tanda serius Bondowoso membangun peternakan dari desa.

ILHAM WAHYUDI, Bajuran - Radar Ijen

Suara kambing dqn sapi bersahutan di lapangan Desa Bajuran, Kecamatan Cermee, Senin (10/11).

Sejak pagi, para peternak berbondong-bondong datang membawa ternak mereka untuk diperiksa, diobati, bahkan sebagian ikut dalam program embrio transfer.

Kegiatan pelayanan kesehatan ternak massal yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bondowoso ini bukan sekadar rutinitas tahunan.

Lebih dari itu, menjadi bukti bahwa pemerintah kabupaten serius membangun sektor peternakan rakyat dari bawah.

“Karena keterbatasan anggaran, tahun ini kami hanya bisa menyentuh 6 titik atau sekitar 600 ekor ternak,” ujar Hendri Widotono, Kepala Disnakkan.

Menurut Hendri, kegiatan ini juga menjadi ajang menyampaikan pesan strategis Bupati Abdul Hamid Wahid kepada para peternak.

Salah satunya, menyatukan kegiatan kontes ternak dengan Festival Muharram mendatang agar ada ruang kebanggaan dan motivasi bagi peternak.

Tak hanya itu, Pemkab juga tengah menggenjot rantai pasok peternakan. Produksi telur, misalnya, akan dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Bupati juga meminta agar aset-aset peternakan segera diaktifkan kembali, termasuk mendorong pemanfaatan Inseminasi Buatan (IB) pada kambing,” tambahnya.

Hendri juga menyoroti potensi besar kambing Etawa di Bondowoso. Selama ini dikenal karena susunya, tapi kini pemerintah mendorong agar kualitas dagingnya juga dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Desa Bajuran Eksan tampak sumringah melihat warganya antusias mengikuti kegiatan.

Ia menyebut perhatian pemerintah daerah terhadap peternak lokal sangat berarti.

“Kami menjaga agar populasi ternak terus bertambah sebagai jalan menuju kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Bapak Bupati dan pendampingan dari dinas sangat berarti bagi kami,” ujarnya.

Pihak desa, lanjut Eksan, kini tengah menyiapkan pembentukan kelompok swasembada daging dan memperkuat peran BUMDes agar mampu mengelola usaha peternakan secara berkelanjutan.

“Kami juga mengikuti arah kebijakan ketahanan pangan nasional. Dengan adanya kelompok ternak dan BUMDes, kami berharap Bajuran dan desa sekitar menjadi sentra penghasil daging,” jelasnya.

Di sisi lain, Eksan juga menuturkan bagaimana petugas Puskeswan Cermee selalu sigap saat muncul gejala penyakit seperti PMK.

“Setiap ada gejala penyakit, petugas langsung turun ke kandang warga. Penanganan cepat ini sangat membantu,” ungkapnya.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, perangkat desa, BUMDes, dan kelompok peternak, Bajuran perlahan menegaskan perannya sebagai motor baru penggerak peternakan Bondowoso, sebuah model desa yang tidak hanya menjaga tradisi beternak, tapi juga menatap masa depan dengan pendekatan teknologi dan kemandirian ekonomi. (ham/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#sentra #Bondowoso #peternak