radarjember.id - Suara gergaji kayu terdengar lirih di antara rumah-rumah di Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan, Bondowoso.
Di teras sederhana itu, beberapa lelaki sepuh tampak sibuk memotong papan, menekuk kawat, dan memaku kotak kayu.
Kerutan di wajah mereka seolah tak menjadi penghalang untuk tetap berkeringat di usia senja.
Mereka bukan sekadar membantu. Para lansia inilah tulang punggung produksi kotak cabai dan sayuran milik Fathor Herman.
Dari sebelas pekerja, delapan di antaranya berusia di atas 50 tahun. Yang tertua bahkan sudah berumur 80 tahun.
“Tidak ada syarat khusus. Asal mau kerja dan jujur, saya terima,” ujar Fathor sembari merapikan potongan kayu di halaman rumahnya.
Fathor memulai usahanya sejak 2018.
Awalnya hanya karena permintaan seorang teman yang membutuhkan kotak cabai. Dari situ, pesanan mulai berdatangan.
Kini, setiap hari ia harus mengirim sekitar 200 kotak ke sejumlah kecamatan di Bondowoso, Jember dan Situbondo.
Kotak berukuran 60x42x40 sentimeter itu mampu menampung 30 kilogram cabai. Harganya Rp 15 ribu per buah. Dalam semalam, omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta.
Namun, di balik angka itu, yang membuat Fathor paling bangga adalah semangat para pekerjanya. “Biar sudah sepuh, tapi kerja mereka telaten. Tidak mau kalah sama yang muda,” katanya.
Kayu bahan baku datang dari Alas Sumur. Biasanya satu sampai tiga pikap kayu nangka dan mahoni dikirim ke tempatnya setiap minggu.
Para pekerja pun datang dan pulang dengan waktu fleksibel.
Tak ada aturan jam kerja ketat. Mereka bebas beristirahat, makan, mandi, atau salat kapanpun mau.
“Rumah mereka juga dekat. Jadi ya kalau capek, pulang dulu, nanti balik lagi,” tambah ayah empat anak itu.
Salah satu pekerjanya, Sanidan, 80, tampak masih lincah.
Dengan tangan yang mulai bergetar, ia memaku papan demi papan dengan sabar. “Kalau cuma duduk di rumah, badan malah sakit semua,” katanya sambil tertawa kecil.
Bagi Sanidan, bekerja bukan soal uang semata. Tapi tentang rasa hidup yang tetap menyala.
Uang hasil kerjanya ia gunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, dan sebagian disisihkan untuk cucu-cucunya. “Badan ini kalau tidak digerakkan, rasanya malah capek. Mending begini, kerja,” pungkasnya. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis