BONDOWOSO, Radar Jember — Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan transformasi besar-besaran di sektor pupuk nasional untuk menciptakan efisiensi dan kemandirian pangan.
Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bondowoso, Rabu (5/11), dalam agenda Rembuk Tani yang digelar di Desa Taman, Kecamatan Bondowoso.
Dalam kunjungan tersebut, Zulkifli meninjau kios pupuk UD Jaya Mandiri dan berdialog langsung dengan para petani setempat.
Turut hadir Ketua DPRD Bondowoso, Kepala Kejaksaan Negeri, Wakil Bupati, Kadis Pertanian, dan perwakilan Tim Pupuk Indonesia.
Pertemuan itu menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi lintas lembaga di bidang ketahanan pangan dan distribusi pupuk nasional.
Zulkifli menjelaskan, reformasi bisnis yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia telah menghasilkan dampak langsung berupa penurunan harga pupuk hingga 20 persen di seluruh Indonesia.
“Saya sudah cek ke lapangan, dan memang benar, harga pupuk sudah turun 20 persen untuk urea, NPK, dan jenis lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, efisiensi tersebut diperoleh karena sistem bisnis yang sebelumnya berbasis cost plus telah diganti menjadi market to market.
Dengan sistem baru ini, mekanisme harga mengikuti pasar, sehingga lebih efisien dan transparan.
“Dulu makin besar biaya, makin besar untung. Sekarang tidak bisa lagi. Kita ubah supaya hemat, dan dari penghematan itu bisa membangun satu pabrik baru setiap tahun,” jelasnya.
Zulhas menegaskan, perubahan tersebut tidak menambah beban subsidi negara.
Sebaliknya, kebijakan baru ini justru menghemat anggaran pemerintah tanpa mengurangi pasokan pupuk bagi petani.
“Subsidi tetap jalan, tapi efisien. Produksi meningkat, dan uang negara bisa digunakan lebih produktif,” katanya.
Ia menambahkan, reformasi ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk membangun kemandirian dan swasembada pangan nasional.
Zulkifli mencontohkan, hasil kebijakan pertanian saat ini sudah terlihat dari surplus produksi beras yang mencapai 4,77 juta ton menurut data BPS.
“Dulu kita impor 4,5 juta ton, sekarang justru surplus. Itu bukti arah kebijakan kita sudah benar,” ujarnya.
Selain itu, kenaikan nilai tukar petani dari 116 menjadi 124 juga disebut sebagai tanda meningkatnya kesejahteraan petani.
“Harga produk naik, pendapatan naik, semangat petani pun meningkat,” tuturnya. Di akhir kunjungan, Zulkifli sempat berdialog santai dengan petani mengenai akses pupuk bersubsidi, dan menutup dengan senyum, “Kita bahas lagi nanti, ya. Sampai jumpa.”
Kunjungan kerja ke Bondowoso ini menjadi bagian dari upaya nasional memastikan reformasi pupuk berjalan efektif di lapangan, sekaligus menguatkan fondasi pertanian menuju kedaulatan pangan Indonesia. (faq)
Editor : M. Ainul Budi