DABASAH, Radar Ijen - Angin perubahan ekonomi mulai berembus ke Bondowoso.
Rampungnya Jalan Tol Probowangi, Probolinggo – Banyuwangi di akhir 2025 mendatang, diyakini bakal membawa napas baru bagi wilayah tapal kuda, termasuk Bondowoso.
Bukan tanpa alasan, salah satu titik strategisnya yakni pembangunan exit tol di Besuki Situbondo, akan membuka jalur konektivitas yang lebih singkat antara kawasan selatan dan utara Jawa Timur.
Namun, dibalik peluang besar itu, juga ada tantangan yang mengintai. Penambahan volume kendaraan akibat beroperasinya tol, dikhawatirkan menurunkan kinerja lalu lintas di kawasan sekitar. Terlebih, pertumbuhan kendaraan bermotor di Bondowoso dari tahun ke tahun terus meningkat.
Dampak pembangunan exit tol ini pun menjadi sorotan dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kabupaten Bondowoso, beberapa waktu lalu. Tak hanya dari sisi transportasi, tetapi juga dari sisi ekonomi regional.
Menurut hasil analisis Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso, keberadaan akses tol tersebut justru membuka peluang ekonomi baru yang cukup besar.
Kabag Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Pemkab Bondowoso, Agung Nurhidayat menjelaskan, infrastruktur ini akan memangkas biaya logistik antar wilayah, memperkuat daya saing produk pertanian dan industri kecil, serta mendorong lahirnya investasi baru di sektor jasa dan perdagangan lokal.
“Efeknya bisa sangat signifikan jika konektivitas antar wilayah dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Dalam kajian ekonomi regional yang mengacu pada OECD Regional Development Papers, Bondowoso diproyeksikan mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi antara 0,3 hingga 0,9 poin per tahun setelah tol beroperasi penuh.
Pemkab menyusun tiga skenario simulasi, diantaranya Konservatif, dengan peningkatan market access sebesar 5 persen. Moderat, sebanyak 10 persen, serta Optimis, hingga 20 persen.
Hasilnya cukup menjanjikan. Selama sepuluh tahun ke depan, PDRB kumulatif Bondowoso diperkirakan bisa menembus Rp 2,6 hingga 10,3 triliun, sementara PDRB per kapita naik dari Rp 25 juta menjadi Rp 41 hingga 44 juta.
Kesejahteraan masyarakat pun diperkirakan meningkat 3,5 hingga 5 persen per tahun.
Dampak paling terasa akan muncul di tiga sektor utama. Pertama, sektor pertanian, yang akan diuntungkan lewat akses cepat ke pasar utama di Surabaya.
Biaya logistik hasil bumi bisa ditekan hingga 20 persen, margin petani meningkat, dan rotasi perdagangan berjalan lebih cepat.
Kedua, sektor UMKM dan industri kecil. Dengan munculnya rest area, pusat kuliner, dan kawasan usaha baru di sekitar jalur penghubung, potensi penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 6.000–8.000 orang dalam sepuluh tahun.
Ketiga, sektor pariwisata dan jasa. Jarak tempuh Surabaya–Bondowoso yang semula 5 jam akan terpangkas menjadi 3,5 jam. Proyeksi kunjungan wisatawan naik hingga 40 persen, dengan nilai ekonomi tambahan mencapai Rp 300 miliar per tahun.
Meski demikian, Agung mengingatkan bahwa analisis tersebut masih bersifat awal.
“Itu angka perkiraan kasar yang dihitung secara ilmiah, namun data masih terbatas. Tetap perlu kajian lebih komprehensif untuk memantapkan nilainya,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi