Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ketika Pemuda Bondowoso Berkarya, Dulu Tak Dilirik, Kini Karyanya Tembus Panggung Internasional

Ilham Wahyudi • Rabu, 29 Oktober 2025 | 16:44 WIB

 

MEMBANGGAKAN: Heri Fari mengabadikan momen bersama model yang menggunakan kostum hasil buatannya.
MEMBANGGAKAN: Heri Fari mengabadikan momen bersama model yang menggunakan kostum hasil buatannya.

Berawal dari satu mesin jahit bekas seharga Rp750 ribu di rumah kecilnya di Desa Koncer, Tenggarang, Bondowoso, kini karya tangan Heri Fari menembus panggung dunia. Bagaimana kisahnya ?

ILHAM WAHYUDI, Koncer - Radar Ijen 

Siapa sangka, tangan terampil pemuda asal Desa Koncer, Kecamatan Tenggarang, Bondowoso, bisa mengangkat nama daerahnya ke panggung dunia.

Dialah Heri Fari, desainer muda berusia 27 tahun yang baru saja pulang dari Thailand setelah mengantarkan karyanya untuk Layanna Robinson, Miss Grand Canada 2025.

Pada ajang Miss Grand International 2025 ke-13 di Bangkok, 18 Oktober lalu, Layanna tampil memukau mengenakan national costume bertema Snowflake, rancangan tangan dingin Heri.

Perjalanan Heri menuju panggung internasional bermula dari dunia maya. Ia rajin membagikan hasil kreasinya di Instagram @herifarifashionart.

Salah satu unggahannya, desain kostum Kanada 2024 yang dikerjakan bersama Indonesia Costume Industry (ICI), mendapat like dari Miss Canada.

Tak lama, ia menerima pesan langsung dari akun Miss Canada sendiri, meminta Heri membuat kostum nasional bertema Snowflake. “Jadi yang menghubungi saya langsung, Miss Kanada sendiri melalui DM Instagram,” ujar Heri sembari tersenyum bangga.

Sebelum mulai merancang, Heri melakukan riset mendalam, mulai dari membaca literatur, mengamati bentuk salju, hingga meneliti bahan terbaik agar kostumnya tak hanya indah tapi juga ringan dipakai.

Ia memilih Spons Eva sebagai bahan utama dan menambahkan hologram sprinkle agar efek saljunya tampak berkilau. 

Tak hanya itu, dua baterai dan power bank ia sematkan untuk menyalakan lampu di kostum, agar bercahaya di atas panggung.

“Kita memikirkan cara packing-nya juga. Kalau kostum besar, susah di penerbangan,” katanya sambil tertawa kecil.

Rancangan itu ia selesaikan dalam waktu sepekan sejak 27 September 2025. Heri tak bekerja sendirian, lima saudaranya, warga sekitar, serta tiga siswa magang dari SMKN 1 Tamanan ikut membantu di rumah produksinya.

“Di tempat saya kan ada anak magang juga,” ucapnya.

Meski bukan pertama kali karyanya tampil di ajang internasional, sebelumnya ia juga membuat kostum nasional untuk Miss Planet International Kamboja 2024, kali ini ia tak kuasa menahan haru. “Pasti bangga banget ya,” katanya, matanya berkaca-kaca.

Perjalanan Heri dimulai dari hal sederhana. Bermodal hobi menggambar, ia menempuh pendidikan di SMKN 2 Bondowoso, jurusan tata busana.

Ia tekun belajar teknik desain, menjahit, dan perpaduan warna. Ia juga kerap menjadi model busana untuk desainer lain di Bondowoso dan Jember, sekaligus aktif ikut lomba desain.

“Kalau lomba sudah banyak sekali, paling berkesan waktu di Surabaya. Berhasil juara 1 saat itu,” kenangnya.

Usai lulus pada 2015, Heri memutuskan tidak kuliah. Ia membuka usaha menjahit dengan satu mesin bekas seharga Rp750 ribu yang dibelikan orang tuanya. “Baju jahitan pertama itu wali kelas SMK, Bu Kanti Lestari. Paling inget buat kebaya guru. Dari satu guru ke guru yang lain,” tuturnya sambil tersenyum.

Perlahan, usahanya menanjak.

Ia bergabung dengan Jember Fashion Carnaval dan Indonesia Costume Industry (ICI), terlibat dalam pembuatan kostum nasional berbagai ajang bergengsi. Dalam tiga tahun terakhir, Heri sudah dua kali ke Thailand dan sekali ke Kamboja untuk proyek serupa.

Kini, harga desain kostumnya menembus 1.000 dolar AS, nilai yang sulit ia bayangkan saat dulu menjahit baju seharga puluhan ribu rupiah.

Tak ingin berhenti sampai di situ, Heri sudah menyiapkan mimpi berikutnya. Ia ingin membuka sekolah modeling di Bondowoso pada 2026. “Karena banyak talent di Bondowoso yang perlu wadah untuk berkembang,” pungkasnya.

 

Editor : M. Ainul Budi
#PEMUDA #karya #Bondowoso