radar jember - KETUA Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono, menilai reaktivasi jalur kereta api (KAI) Kalisat–Bondowoso–Panarukan menjadi kebutuhan mendesak di tengah padatnya arus transportasi darat.
Ia menyebut, jalur bersejarah itu bukan hanya memiliki nilai strategis dalam mendukung konektivitas antarwilayah, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan sejarah Bondowoso yang patut dihidupkan kembali.
Menurutnya, wacana aktivasi jalur tersebut sebenarnya sudah pernah dilontarkan oleh pemerintah pusat pada periode 2019–2024.
Saat itu, jalur Kalisat–Panarukan dipertimbangkan sebagai alternatif transportasi akibat meningkatnya kepadatan jalur darat di kawasan tapal kuda.
“Namun, sayangnya wacana itu perlahan memudar dan hilang dari pembahasan,” ungkapnya Jumat (3/10).
Ia mengungkapkan, dalam Program Strategis Nasional hingga 2030, rencana reaktivasi jalur-jalur kereta mati kembali muncul, termasuk jalur yang melewati Bondowoso.
Karena itu, ia berharap agar pemerintah pusat serius menindaklanjutinya.
“Kami sudah lama berharap Bondowoso menjadi prioritas penyelesaian. Kondisi jalan Situbondo–Bondowoso dan Jember–Bondowoso sudah sangat ramai. Meski lebarnya ideal, tetap butuh alternatif transportasi publik,” paparnya.
Selain sisi fungsional, jalur tersebut juga memiliki nilai historis yang kuat.
Sutriyono menegaskan, jalur KAI Kalisat–Panarukan memiliki kaitan dengan kisah Gerbong Maut—monumen perjuangan yang menjadi kebanggaan masyarakat Bondowoso.
“Ini bukan sekadar proyek transportasi, tapi juga upaya menjaga nilai kepahlawanan leluhur kita. Jalur ini punya makna sejarah besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sutriyono menilai Bondowoso selama ini menghadapi tantangan geografis karena tidak dilewati jalan nasional, tol, maupun bandara.
“Letak Bondowoso memang terhimpit secara transportasi. Orang yang lewat Bondowoso itu benar-benar niat, karena kita tidak punya jalan nasional seperti kabupaten lain,” katanya. Menurutnya, kondisi ini menuntut terobosan besar agar konektivitas wilayah dan aktivitas ekonomi warga tetap hidup. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi