radar jember - TIGA ruang kelas dan satu ruang UKS di SDN Kota Kulon 2 Bondowoso, menjadi salah satu bangunan yang terdampak, gempa 6,5 SR di Sumenep beberapa hari lalu.
Plafon lantai dua lembaga pendidikan tersebut rusak, sejumlah bata juga tampak berjatuhan di ruangan itu.
Melihat hal tersebut, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid meminta kepada pihak terkait, untuk melakukan assessment terhadap keamanan gedung sekolah itu.
Selain itu, dia berharap ada alat peringatan dini atau early warning system, yang akan digalakkan oleh pemerintah daerah.
“Itu akan membantu dalam menyiapkan langkah penyelamatan yang akan dilakukan,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terkait anggaran atau bantuan terhadap kerusakan gedung itu. Pria yang akrab disapa Ra Hamid itu memastikan, anggaran perbaikan akan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
“Kami akan perbaiki, kami akan audit. Termasuk (sekolah rusak, red) yang di Plalangan,” tuturnya.
Dikonfirmasi di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Bondowoso Fathur Rozi menjelaskan, perbaikan sekolah rusak akibat gempa itu, akan diupayakan dapat terlaksana pada tahun anggaran 2025, menggunakan dana BTT.
“Tapi nanti masih akan diusulkan oleh BPBD. Kemudian akan dihitung dan dinilai oleh Perkim berapa kebutuhannya,” ucapnya.
Dia belum bisa memastikan berapa anggaran yang akan digelontorkan. Karena belum dilakukan penghitungan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Namun, dia memastikan akan bergerak cepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Sehingga para siswa tidak lagi belajar di ruang terbuka atau di bawah tenda darurat.
“Ini kondisi darurat atau emergency. Itu hanya 14 hari, berarti harus ada penyelesaian cepat dari pemerintah daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Kalaksa BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo mengatakan, waktu tanggap darurat terhadap bencana memang 14 hari.
Namun, hal tersebut dapat ditinjau kembali. Sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.
“Bisa diperpanjang,” ujarnya.
Namun, dalam jangka waktu tersebut harus dilakukan kajian, apakah membutuhkan penanganan secara cepat. Misalnya dengan intervensi dana BTT dan lain sebagainya.
“Hari ini kami naikkan usulan tanggap daruratnya,” ungkapnya.
BPBD Bondowoso membangun 2 tenda berukuran 6 X 12 meter. Hal tersebut dijadikan sebagai sarana untuk kegiatan belajar mengajar.
Ada empat kelas yang belajar di bawah tenda itu, sementara kelas lainnya belajar di musala.
“Sementara selama 14 hari, akan kami tempatkan disini. Tapi akan kami evaluasi lagi nanti,” pungkasnya. (ham/BUD)
Editor : M. Ainul Budi