radar jember - MESKI ditutup total, Gunung Piramid tak pernah sepi. Dari balik jalur belakang, rombongan muda kerap menyelinap naik.
Kadang berhasil, kadang berujung petaka. Kini pemerintah tak ingin lagi ada korban.
“Piramid ini termasuk jalur ekstrem. Tidak semua bisa naik tanpa trik, metode, dan pendampingan khusus,” kata Yuni Dwi Sri Handayani, Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso.
Menurutnya, skema pengelolaan resmi kini sedang disusun. Opsi yang paling tepat adalah menyerahkan penuh pada Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dengan tetap melibatkan masyarakat setempat.
Nantinya, setiap pendaki wajib registrasi, memiliki asuransi, dan didampingi pemandu.
“Kalau legal, orang masuk jelas aturannya. Ada batas kemampuan. Tidak semua harus dipaksa sampai puncak,” imbuhnya.
Selain keamanan, pengelolaan resmi juga memberi manfaat ekonomi. Pendaki butuh parkir, butuh penginapan, hingga konsumsi.
“Masyarakat tetap diberdayakan, tapi dengan pola yang tertata,” jelasnya.
Hingga kini, Perhutani masih menutup total jalur pendakian Piramid. Larangan dipasang di beberapa titik, meski faktanya tidak menyurutkan minat.
Justru, semakin dilarang, semakin banyak yang mencoba naik.
“Daripada kucing-kucingan lalu ada korban, lebih baik dilegalkan dengan manajemen yang pas. Kalau ada peralatan safety, ada pemandu, risikonya bisa ditekan,” tambahnya.
Bagi masyarakat sekitar, Gunung Piramid bukan hanya bentang alam indah, melainkan sekaligus ladang ekonomi dan ujian nyali.
Namun tanpa tata kelola yang jelas, gunung curam dengan jurang menganga di kanan-kiri itu tetap jadi ancaman. Kini semua mata tertuju pada skema baru yang tengah dibahas.
Jika berhasil, Gunung Piramid bisa menjadi magnet wisata ekstrim kelas dunia, tanpa harus mengorbankan nyawa lagi. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi