radarjember.id - Wisata kopi milik Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Potensi ini salah satunya menarik perhatian akademisi dari Universitas Jember (Unej).
Seperti yang dilakukan kelompok Riset Tourism Management and Finance (RISMA FINA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej yang melaksanakan program pengabdian masyarakat untuk mengedukasi pengelolaan sampah di salah satu kawasan wisata kopi di Bondowoso tersebut.
Program ini diharapkan dapat menjaga kebersihan lingkungan serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal masyarakat setempat. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memperkuat citra Desa Sukorejo sebagai destinasi wisata kopi yang ramah lingkungan.
Penting untuk diketahui, Desa Sukorejo yang terletak di kawasan lereng Gunung Ijen dan Gunung Raung dikenal sebagai daerah penghasil kopi unggulan di Bondowoso. Di sana, pesona alam dengan hamparan perkebunan kopi menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata, warga setempat mulai mengembangkan usaha berbasis kopi seperti kafe, suvenir, dan paket wisata edukasi. Sayangnya, di balik itu jumlah kunjungan wisatawan membawa tantangan baru berupa penumpukan sampah yang belum tertangani optimal.
Masalah sampah yang muncul dikhawatirkan bisa mengganggu kebersihan lingkungan yang sudah menjadi daya tarik utama wisata kopi Desa Sukorejo.
Untuk menjadi masalah ini, tim RISMA FINA Unej menginisiasi program bertajuk “Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Wisata Kopi Desa Sukorejo”.
Adapun pendekatan yang dipakai adalah Integrated Waste Management Models (IWMMs) berbasis konsep 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Recover.
Ketua tim Pengabdian RISMA FINA Unej Prof. Dr. Sumani, S.E., M.Si. mengatakan, program ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Program ini diawali dengan survei lapangan untuk memetakan masalah yang dihadapi Desa Sukorejo. Selanjutnya, Focus Group Discussion (FGD) digelar bersama perangkat desa, pengelola wisata, dan warga untuk merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Kemudian, juga ikut dilakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik. Warga diajarkan memanfaatkan fasilitas tempat sampah terpilah yang telah disediakan di kawasan wisata.
Selain itu, warga juga diberi pelatihan pengolahan sampah menjadi produk kerajinan tangan kreatif seperti tas dan hiasan berbahan daur ulang.
"Harapan kami, Desa Sukorejo tidak hanya dikenal karena wisata kopinya, tetapi juga karena kesadaran masyarakatnya dalam menjaga lingkungan dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Untuk itulah program ini hadir ke Desa Sukorejo," terang Sumami, Selasa (30/9).
Menurutnya, prgram ini tidak hanya berfokus pada kebersihan kawasan wisata, namun juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Sebab, produk hasil daur ulang yang dihasilkan dapat dijual sebagai cendera mata kepada wisatawan, sehingga membuka peluang usaha tambahan bagi warga.
Sumani mengatakan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. Sehingga, penting bagi pelaku di dalamnya untuk membangun kebiasaan yang ramah lingkungan agar pengelolaan sampah dapat terus berjalan meskipun pendampingan berakhir.
"Tentu dengan penerapan yang konsisten, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa wisata lain dalam mengelola sampah secara efektif dan menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga bersih, ramah lingkungan, dan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar," ungkap Sumani. (dea)
Editor : Adeapryanis