radar jember - PETANI tembakau di Kabupaten Bondowoso tengah menghadapi tantangan berat. Situasi pasar yang tidak stabil, harga yang menurun, serta cuaca ekstrem membuat posisi petani semakin terjepit.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso sebagai wadah perjuangan petani.
Ketua APTI Bondowoso, Muhammad Yasid, mengungkapkan terdapat 3 tantangan besar.
“Pertembakauan saat ini dihadapkan pada tantangan yang sangat berat. Pertama, berkaitan dengan cuaca ekstrem atau yang kita kenal dengan kemarau basah. Kedua, soal pasar yang tahun ini cenderung sempit sehingga ada penurunan konsumen dari pihak pabrikan. Ketiga, masalah harga yang terus menekan petani. Tiga persoalan ini membuat situasi pertembakauan tidak kondusif,” ungkapnya.
Bondowoso kini mengintensifkan komunikasi empat arah.
Pertama dengan petani, kedua dengan pemerintah, ketiga dengan stakeholder seperti pabrikan atau gudang, dan keempat dengan kalangan akademisi.
Langkah ini penting agar setiap persoalan yang dihadapi petani dapat dicarikan solusi bersama.
“Dengan petani, kami terus melakukan edukasi terkait kondisi cuaca, pasar, dan harga. Dengan pemerintah, kami mendorong adanya pembinaan dan regulasi yang berpihak kepada petani. Sementara dengan pabrikan, kami berupaya agar penyerapan tembakau bisa maksimal dan harga lebih stabil,” jelasnya.
Ia menambahkan, regulasi pemerintah yang terlalu ketat juga berdampak besar terhadap nasib petani.
Kebijakan terkait cukai, pembatasan promosi produk tembakau, hingga aturan baru dalam PP 28 Tahun 2024 dinilai menekan sektor hilir.
“Kalau hilir bermasalah, hulu yaitu petani juga ikut tertekan,” tegasnya.
Sebagai strategi jangka panjang, APTI mendorong transformasi di kalangan petani tembakau.
Edukasi dan pelatihan terkait antisipasi, adaptasi, dan pemanfaatan teknologi terus digencarkan agar petani mampu menghadapi cuaca yang tidak menentu serta dinamika pasar.
Selain itu, APTI juga mengimbau petani untuk menyesuaikan luas tanam dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, keseimbangan antara supply dan demand dapat terjaga.
“Harapan kami, ada keseimbangan antara penyediaan dan permintaan. Jika terjadi kelebihan produksi, yang dirugikan tetap petani. Karena itu APTI hadir untuk mengawal agar kondisi ini bisa lebih adil dan berkelanjutan,” pungkasnya. (mmg2/ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi