PANCORAN, Radar Ijen – Para petani tembakau di Bondowoso kembali menghadapi tantangan berat akibat harga jual yang tidak stabil.
Salah satunya dialami oleh Muhammad Rozaki, 45, warga Desa Pancoran, yang telah menekuni usaha tembakau sejak 2019.
Ia mengungkapkan, kerugian terbesar biasanya terjadi saat musim hujan karena proses pengeringan terganggu.
Menurut Rozaki, jika tembakau terkena hujan, kualitasnya menurun drastis.
“Kalau hujan itu pasti rusak. Solusinya ya harus juringannya dibuat dalam supaya tembakau tidak rusak. Kalau tidak, ya pasti rusak,” jelasnya.
Kondisi tersebut kerap membuat hasil panen tidak bisa dijual dengan harga layak.
Tembakau yang berhasil dikumpulkan biasanya dikirim ke gudang pengepul atau ada yang membeli langsung.
Dari sana, hasil panen tidak hanya beredar di Bondowoso, tetapi juga dikirim ke luar kota seperti Malang, Bojonegoro, hingga Kraksaan.
“Kalau ke Malang bisa sampai satu truk, tapi semua tergantung permintaan juragan,” kata Rozaki.
Namun, saat kualitas tembakau menurun, harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Petani tetap bisa menjual, namun dengan nilai yang merugikan.
“Sekarang banyak petani yang rugi karena harganya tidak stabil seperti dulu. Lebih murah sekarang,” ujarnya.
Jika sebelumnya harga tembakau bisa mencapai Rp55 ribu per kilogram, kini tembakau kualitas bagus hanya dihargai Rp 50 ribu ke atas.
Sedangkan untuk tembakau rusak, harganya anjlok hingga Rp 30 ribu – Rp 40 ribu per kilogram.
Selain itu, proses pengeringan juga menjadi kendala utama saat musim hujan. Menurut Rozaki, seharusnya tembakau dikeringkan dengan oven agar kualitasnya terjaga.
Sayangnya, biaya untuk membuat oven cukup besar dan sulit dijangkau petani kecil. Akibatnya, banyak hasil panen yang tidak maksimal.
Rozaki menilai, harga tembakau yang stabil menjadi kunci kesejahteraan petani Bondowoso. “Kalau harga tetap stabil, petani bisa hidup sejahtera. Jangan sampai terus turun,” harapnya.
Ia menambahkan, setiap musim panen para petani selalu dihantui rasa cemas.
Jika cuaca buruk datang bersamaan dengan turunnya harga, kerugian bisa berlipat ganda.
“Yang ditakutkan petani itu hujan. Kalau sudah begitu, tidak ada pilihan lain selain pasrah. Hasilnya pasti jauh dari harapan,” tutupnya. (mmg3/faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi