Badean, Radar Ijen - Potensi pesepakbola muda asli Bondowoso sebenarnya cukup banyak.
Sayang, banyak dari mereka harus merantau ke luar kota demi mendapatkan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.
Sebab, sarpras sepakbola di Bondowoso bisa dibilang bobrok. Lihat saja, lapangan di Stadion Magenda pun tak ada rumput hijaunya.
Tak sedikit kolom warganet menyebut stadion itu adalah Santiago Berdebu.
Kering, keras dan paling parah adalah banyak kerikil. Bila pemain jatuh sudah bisa dipastikan akan lecet.
Jangan harap bila pemain bisa melakukan sleding tackle layaknya pesepakbola profesional. Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi pun memberikan sorotan tajam terkait kondisi miris lapangan Magenda.
Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu jalannya pertandingan, tetapi juga meningkatkan risiko cedera.
“Kalau anak-anak jatuh, bisa beset semua,” ungkapnya.
Rozi menegaskan, pembenahan lapangan menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan pembinaan olahraga tidak terhambat.
Menurutnya, meski pemerintah daerah masih fokus pada pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas olahraga juga harus mendapat perhatian.
“Yang paling utama sekarang adalah lapangan, terutama rumputnya, supaya layak digunakan,” katanya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, tengah berupaya mencari jalan keluar, termasuk membuka peluang dukungan rehabilitasi dari pemerintah pusat maupun pihak ketiga.
Untuk jangka pendek, perawatan rumput minimal perlu dilakukan agar stadion bisa dipakai dengan aman.
Ia juga sudah berkoordinasi dengan Askab PSSI Bondowoso untuk mengawal upaya perbaikan.
Kondisi memprihatinkan Stadion Magenda sebenarnya bukan hal baru.
Sejumlah atlet lokal dan masyarakat telah lama menyampaikan keluhan.
Sebagai satu-satunya stadion representatif di Bondowoso, fasilitas yang tidak layak justru menghambat pembinaan atlet muda yang memiliki antusiasme tinggi terhadap sepak bola. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi