Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengusaha Tape di Bondowoso Keluhkan Minimnya Sentuhan Pemerintah, Hidup Segan Mati Tak Mau

Redaksi Radar Jember • Senin, 22 September 2025 | 11:25 WIB

 

DIKEMAS : Nur Suci istri dari Sanusi owner Tape Nur Barokah ketika mengemas tape sebelum di masukkan ke dalam besek bambu.(YUNITA SETYOWATI)
DIKEMAS : Nur Suci istri dari Sanusi owner Tape Nur Barokah ketika mengemas tape sebelum di masukkan ke dalam besek bambu.(YUNITA SETYOWATI)
 

radar jember - PENGUSAHA Tape di Bondowoso ternyata banyak berkeluh kesah soal perhatian dari Pemkab.

Seperti yang dirasakan oleh Sanusi, pemilik Tape Nur Barokah yang berdiri sejak 2020 lalu, yang berada di Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal.

Menurunnya, permintaan pasar tape sebenarnya terus berkembang.

Produknya kini rutin dikirim ke Surabaya, Jombang, hingga Madura. Namun, hal tersebut bukan tanpa tantangan.

“Kalau ke Madura itu dua hari sekali bisa sampai 350 besek. Untuk Surabaya seminggu sekali, dan Jombang tiga kali seminggu,” katanya.

Sayangnya, peluang besar itu sering terkendala modal dan sistem pembayaran dari pembeli luar kota.

Menurut Sanusi, tidak jarang pengiriman sudah dilakukan, tetapi pembayaran molor. Kondisi itu jelas merugikan pengusaha.

Persoalan lain muncul dari bahan baku. Singkong Tamanan memang dikenal berkualitas, tapi tidak selalu dipanen di usia ideal.

Dampaknya, kualitas tape bisa menurun. Hal ini tentu di karenakan hal utama yang perlu di perhatikan dari kualitas tape adalah bahan bakunya.

Keluhan lain yang tak kalah penting adalah soal risiko kerusakan produk saat musim kemarau. Dalam masa transisi itu, banyak tape yang rusak karena kualitas singkong tidak sebagus biasanya.

Kondisi ini menambah beban pengusaha yang sudah lebih dulu terbentur masalah modal dan pemasaran.

Sanusi menilai, minimnya dukungan pemerintah membuat pengusaha berjalan sendiri.

Oleh sebab itu, dia berharap Pemkab Bondowoso memberikan perhatian lebih, dengan menyediakan pasar bagi pengrajin tape yang lebih menguntungkan.

“Selama ini belum ada sosialisasi menyeluruh yang menyentuh semua pengusaha tape,” tegasnya.

Padahal menurutnya, tape Bondowoso punya kualitas yang tidak kalah dibandingkan produk luar daerah.

Melihat hal itu, Sanusi dan pengrajin lainnya menunggu langkah konkret berupa dari Pemkab.

Mulai dari akses modal, pembinaan, hingga promosi pemasaran.

Tanpa itu semua, ikon kebanggaan Bondowoso dikhawatirkan hanya tinggal nama.

“Insya Allah, untuk persaingan dengan tape luar kota, kita tetap di atas,” pungkasnya. (mmg3/faq/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#tape #Bondowoso