Selain terkenal dengan branding Bondowoso Republik Kopi. Bondowoso dulunya juga dikenal dengan julukan Kota Tape. Sebab, makanan khas dari Singkong ini jadi salah satu andalan oleh-oleh. Namun, bagaimana nasib eksistensinya Tape khas Bondowoso sekarang?
Faqih Humaini & Ilham Wahyudi - Radar Ijen
Tape Bondowoso punya rasa khas berbeda dari kota lainnya.
Rasa manis legit jadi salah ciri khas tape Bondowoso. Terlebih, uniknya, nama tape Bondowoso ini identik dengan angka. Macam, Tape manis 31, Tape Manis 82, atau Tape Handayani 82.
Tape Bondowoso yang punya rasa khas itu, ternyata sudah menjadi primadona sejak lama. Bahkan beberapa warga, sumber penghasilannya dengan berjualan tape sejak puluhan tahun lalu.
Namun, seiring berjalannya waktu tape yang dulu menjadi ikon kuliner khas Bondowoso kini mulai kehilangan gaungnya. Persaingan usaha yang kian ketat, ditambah dampak pandemi covid 19 beberapa tahun lalu, membuat sentra tape sempat meredup.
Tapi, para pelaku usaha tetap berusaha bertahan dengan satu pegangan utama: menjaga kualitas agar kepercayaan konsumen tidak luntur.
Kejayaan tape Bondowoso sebagai ikon kuliner khas daerah kini menghadapi tantangan serius. Salah satu toko legendaris, Tape 82, merasakan langsung penurunan permintaan sejak pandemi Covid 19. Hal itu diungkapkan Junaidi, Manajer Toko Tape 82, yang sudah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia usaha tape.
Menurut Junaidi, masa keemasan usaha tape dirasakan pada awal 2000-an hingga sebelum pandemi. Namun, setelah Covid-19 melanda, penjualan mengalami penurunan signifikan. “Faktor ekonomi dan banyaknya pengusaha baru yang bermunculan membuat pasar semakin jenuh. Sekarang tidak hanya Bondowoso, tapi daerah-daerah lain seperti Jember juga ikut memproduksi tape,” ujarnya.
Junaidi menyebutkan, secara global permintaan tape masih ada, namun posisi Tape 82 semakin terdesak.
Pasar tape kini tersebar di berbagai wilayah Bondowoso, tidak lagi terpusat di satu sentra.
Meski begitu, ia tetap menekankan pentingnya menjaga kualitas produk sebagai kunci mempertahankan konsumen.
“Target kami sederhana: membuat pelanggan puas dan tidak kecewa. Dengan menjaga kualitas, InsyaAllah produksi akan ikut meningkat,” tambahnya.
Tren baru dalam dunia tape, seperti tape krispi, turut mewarnai persaingan.
Meski Tape 82 tidak memproduksi sendiri jenis olahan tersebut, mereka tetap menyediakannya melalui pemasok. Strategi ini diambil untuk menyesuaikan dengan selera pasar tanpa mengorbankan stabilitas produksi utama.
Namun, menurut Junaidi, dukungan pemerintah terhadap pengusaha tape besar seperti Tape 82 masih minim.
Bantuan umumnya hanya menyasar usaha kecil yang baru merintis. Ia berharap pemerintah lebih serius mengembangkan sektor pariwisata Bondowoso, karena keberadaan wisata akan berdampak langsung pada usaha oleh-oleh khas daerah.
“Dibandingkan kota lain, pariwisata Bondowoso masih tertinggal. Kalau pariwisata maju, otomatis tape juga ikut dikenal luas,” katanya.
Selain itu, Junaidi menyoroti masalah pemalsuan merek yang kerap merugikan pengusaha senior.
Menurutnya, ada pelaku usaha yang menggunakan nama besar tape ternama untuk dipasarkan ke luar daerah.
Ia berharap pemerintah melalui dinas terkait bisa menertibkan praktik ini agar persaingan usaha lebih sehat.
Meski berbagai tantangan menghadang, Junaidi optimistis tape Bondowoso tetap punya tempat di hati masyarakat.
Ia berpesan kepada generasi muda untuk terus melestarikan warisan kuliner ini dengan cara berinovasi tanpa meninggalkan kualitas dan ciri khas tape Bondowoso. (mmg1/ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi