PRAJEKAN LOR, Radar Ijen - Suara ketukan lesung mulai terdengar ketika malam belum sepenuhnya larut.
Di halaman Balai Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, ratusan pasang mata sudah menunggu.
Emak-emak desa dengan cekatan menabuh lesung, alat penumbuk padi yang disulap jadi instrumen musik. Alunan itu dikenal warga dengan nama ronjhengan.
Tidak dengan dentuman bass atau sorot lampu modern, melainkan tradisi yang lahir dari keseharian warga.
Penonton bertepuk tangan, beberapa ikut bergoyang. Suasana pun cair, sekaligus menegaskan identitas: inilah desa budaya yang tak sekadar mempertahankan warisan, tetapi juga terus mencari bentuk baru.
Setelah ronjhengan, panggung diambil alih anak-anak muda Bondowoso.
Mereka naik dengan gitar, drum, bass, juga kennong tellok. Instrumen tradisi bertemu dengan instrumen modern. Dari sinilah musik Madura kemudian melahirkan wajah baru yakni genre fusion.
Malam itu, Lajhuni Munyi tampil dengan tiga lagu ciptaan mereka, Bulen Molod, Labun Pote, dan Ome Taoh.
Sedangkan kelompok Tanian Lanjeng membawakan satu nomor spesial berjudul Sa’langseng. Lagu itulah yang menjadi roh perayaan tahun ini.
“Kalau secara genre, bisa dibilang fusion. Ada rock, grunge, dan tradisi. Tapi tetap ada pesan dan nasehat di tiap liriknya,” ujar Lutfan Hawari, vokalis Lajhuni Munyi, sembari tersenyum.
Malam makin larut, tapi penonton tak beranjak. Sebagian terkesima melihat bahasa Madura dilantunkan dengan cara yang lebih segar, sebagian lain menikmati dentuman drum yang berpadu dengan ritme tradisi.
Yang jelas, penonton larut, ikut bersenandung, bahkan merekam lewat ponsel.
Bagi Kepala Desa Prajekan Lor, Fandi Shofan Hidayat, festival ini bukan sekadar konser. Mereka ingin menjaga tradisi sekaligus memperbaruinya.
“Karena itu, kami datangkan kurator musik agar bisa lebih mudah diterima generasi muda,” ujarnya.
Sejak 2013, festival ini rutin digelar. Tak melulu musik, ada pula penghargaan bagi para pelestari budaya desa.
Tahun ini, giliran tokoh tari remong dan pencak silat yang mendapat apresiasi. Tahun lalu, penghargaan diberikan kepada pelestari bahasa.
Asisten II Pemkab Bondowoso, Abdurrahman, menutup acara dengan pesan yang menyentuh. Menurutnya momentum tersebut bukan sekadar perayaan.
“Tapi gerakan merawat tradisi, memperkuat identitas, dan membangun peradaban yang bermartabat,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi