Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bondowoso Terus Perkuat Identitas Sebagai Kota Megalitikum

Faqih Humaini • Jumat, 19 September 2025 | 00:54 WIB

 

WARISAN: Batu peninggalan zaman megalitikum yang ada di Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) Kecamatan Grujugan. Potensi batu peninggalan prasejarah tersebut mulai diteliti sejak tahun 1898.
WARISAN: Batu peninggalan zaman megalitikum yang ada di Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) Kecamatan Grujugan. Potensi batu peninggalan prasejarah tersebut mulai diteliti sejak tahun 1898.

BADEAN, Radar Ijen -  Pemerintah Bondowoso  menetapkan Pusat Informasi Megalitikum (PIM) sebagai Museum Terbuka Megalitik Bondowoso.

Keputusan tersebut dituangkan dalam SK Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid Nomor: 100.3.3.2/312/430.4.2/2025. Dengan status baru ini, Bondowoso semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu pusat kebudayaan megalitikum terbesar di Indonesia.

Museum yang berlokasi di Jalan Purbakala, Dusun Daringan, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan ini akan dikelola dengan dukungan penuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bondowoso.

Penetapan resmi tersebut juga menegaskan komitmen Pemkab dalam mengangkat warisan budaya yang telah lama melekat di daerah berjuluk “Kota Tape” itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, I Gede Budiawan, menyebutkan status museum terbuka saat ini masih berskala lokal.

Namun, pihaknya telah mengajukan peningkatan status ke pemerintah pusat melalui Disbudpar Provinsi Jawa Timur.

“Harapannya, Museum Terbuka Megalitik Bondowoso bisa ditetapkan sebagai museum nasional,” jelasnya.

Ia menambahkan, peningkatan status itu diharapkan dapat menarik lebih banyak kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Dengan predikat baru ini, kami optimis wisatawan yang tertarik pada sejarah budaya megalitikum akan semakin banyak datang ke Bondowoso,” ujarnya.

Selain itu, pengembangan museum juga disinergikan dengan status UNESCO Global Geopark (UGG) Ijen yang disandang Bondowoso sejak 2023.

Menurut Gede, keberadaan museum akan memperkuat paket wisata budaya sekaligus menambah daya tarik kawasan geopark yang sudah mendunia.

Proses peningkatan status museum menjadi nasional, lanjutnya, biasanya memakan waktu satu hingga dua tahun.

Meski begitu, Pemkab berharap ada percepatan agar Bondowoso lebih cepat mendapat pengakuan yang lebih luas.

“Ini penting agar warisan budaya megalitikum kita lebih terlindungi sekaligus dikenal secara internasional,” tegas Gede.

Saat ini, Bondowoso memiliki lebih dari 1.000 situs megalitikum yang tersebar di beberapa kecamatan, dengan sentra utama di Grujugan seluas 36 hektare.

PIM sendiri berdiri di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi, menampilkan koleksi batu kenong, menhir, lumpang batu, sarkofagus, hingga arca.

Dengan pengakuan resmi sebagai museum terbuka, Bondowoso semakin kokoh dikenal sebagai “Kota Megalitikum” dan destinasi wisata budaya unggulan di Jawa Timur (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#megalitikum #Bondowoso