Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Vibes ala Jepang Saat Bunga Tabebuya Mekar di Jantung Kota Bondowoso, Tak Boleh Sekedar Indah tapi Juga Aman

Ilham Wahyudi • Selasa, 16 September 2025 | 19:19 WIB

 

ALA-ALA JEPANG: Suasana sepanjang jalan Mayjen Sutoyo, Dabasah terdapat banyak pohon tabebuya yang bunganya sudah mulai bermekaran.
ALA-ALA JEPANG: Suasana sepanjang jalan Mayjen Sutoyo, Dabasah terdapat banyak pohon tabebuya yang bunganya sudah mulai bermekaran.

DABASAH, Radar Ijen – Suasana sepanjang jalan Mayjen Sutoyo, Dabasah, Kecamatan Bondowoso terasa berbeda beberapa hari terakhir. Pohon tabebuya yang tersebar di sejumlah titik jalan itu mulai bermekaran.

Bila para pengendara melewati jalan itu, vibesnya ala-ala jepang. Layaknya musim semi. Warna kuning, putih, hingga merah muda dari bunga tabebuya menghiasi sepanjang jalan yang berada di wilayah jantung kota Bondowoso itu.

Tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun pengendara yang melintas.

Tidak sedikit masyarakat yang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen langka ini dengan kamera ponsel mereka.

Pohon di tepi jalan sering dianggap sekadar penghias kota. Padahal, keberadaannya punya peran jauh lebih penting.

Mulai dari menjaga kenyamanan, keselamatan, sekaligus kualitas lingkungan. Karena itu, penataan pohon tidak bisa sembarangan, harus memperhatikan aturan dan aspek teknis.

Menurut Permen PU Nomor 5 Tahun 2012, penanaman pohon pada jalan umum wajib memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan. Artinya, keindahan tidak boleh mengorbankan keamanan pengendara maupun pejalan kaki.

Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) Nunung Nuring Hayati mengatakan, jenis tanaman yang dipilih misalnya harus kuat, tidak mudah tumbang, cabang tidak gampang patah, serta daunnya tidak terlalu sering gugur.

Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) Nunung Nuring Hayati
Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) Nunung Nuring Hayati

Selain itu, perawatan pun harus mudah agar keberlanjutan terjaga. Aspek akar juga menjadi perhatian. Akar pohon tidak boleh merusak konstruksi jalan, pedestrian, maupun saluran air.

“Semakin tinggi pohon, rata-rata diameter akar juga semakin panjang. Itu sebabnya jarak tanam harus diatur sesuai jenis pohon,” katanya.

Rata-rata jarak tanam pohon minimal tiga hingga sepuluh meter. Jarak ini penting agar masing-masing pohon bisa tumbuh dengan baik, tidak saling mengganggu, dan tidak merusak fasilitas sekitar.

Selain di tepi jalan, pohon juga efektif ditanam di median jalan maupun di taman-taman kota. Lokasi ini dianggap ideal karena memberi ruang cukup bagi akar, sekaligus menambah keindahan tata kota.

Namun, fungsi pohon tak berhenti pada estetika.

Vegetasi juga punya manfaat ekologis yang sangat vital, menyerap polusi udara, mengurangi efek radiasi sinar matahari, sehingga menurunkan suhu di sekitar jalan raya.

Dengan perencanaan yang matang, keberadaan pohon bisa efisien dan efektif. Tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi pengguna jalan, baik yang berkendara maupun pejalan kaki.

Intinya, menanam pohon di tepi jalan bukan sekadar urusan hijau-hijauan.

Tapi juga soal tanggung jawab menghadirkan ruang publik yang indah, aman, dan sehat untuk semua. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#tabebuya #UNEJ #Bondowoso