DABASAH, Radar Ijen - Di saat warga kota sibuk mengeluh soal sinyal lemot, ratusan warga di pelosok Bondowoso justru tak pernah tahu rasanya internet.
Di 22 titik yang masuk kategori blank spot, jangankan streaming YouTube, untuk sekadar telepon pun sinyal nyaris tak ada.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, ada 22 titik di Bondowoso yang masih terjebak dalam sunyi. Warga di sana hidup tanpa akses sinyal komunikasi.
Bagi mereka, internet bukanlah kebutuhan harian, melainkan kemewahan yang mustahil dijangkau.
Data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mencatat, blank spot itu tersebar di dua kecamatan.
Di Tamanan, ada tiga dusun di Desa Mengen, enam dusun di Desa Tamanan, dan tujuh dusun di Desa Sumber Kemuning.
Sementara di Taman Krocok, masing-masing satu dusun di Desa Taman Krocok, tiga dusun di Desa Kretek, dan tiga dusun di Desa Gentong.
Dengan topografi pegunungan, sinyal nyaris tak pernah bisa masuk. Anak-anak sekolah harus turun bukit hanya untuk mengunduh materi pelajaran.
Warga yang hendak menghubungi keluarga di kota harus berjalan jauh ke titik tertentu, sekadar agar panggilan telepon tersambung.
“Penyebab utamanya karena lokasi terpencil dengan topografi pegunungan,” jelas Eka Kusuma Astuti, Kabid Teknologi Informatika Diskominfo Bondowoso, Rabu (10/9).
Persoalan ini sudah dikomunikasikan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Sebab, jika hanya mengandalkan APBD, pemerintah daerah tak sanggup menutup kebutuhan.
Per titik, biaya membangun infrastruktur jaringan disebut sangat tinggi.
“APBD saat ini hanya diprioritaskan untuk bandwith dan infrastruktur fiber optik yang sudah dipasang di 93 titik, khususnya untuk OPD, kecamatan, dan puskesmas,” tambah Eka.
Ironisnya, pada 2019 lalu Bondowoso sempat terbantu lewat Program BAKTI Kominfo RI.
Saat itu Diskominfo hanya perlu menyiapkan lahan untuk pemasangan perangkat.
Namun kini, program tersebut tak lagi berjalan.
“Dulu kami hanya diminta menyiapkan lahan untuk perangkat, sekarang sudah tidak ada lagi bantuan,” pungkasnya.
Keberadaan 22 blank spot ini menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa langkah serius dari pemerintah pusat maupun daerah, jurang digital di Bondowoso akan semakin lebar.
Sementara warga di titik-titik itu hanya bisa berharap, suatu saat ponsel mereka tak lagi sekadar benda mati tanpa sinyal. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi