BONDOWOSO, Radar Ijen – Tahun 2019 silam Bondowoso pernah meraih apresiasi dan penghargaan di tingkat nasional.
Kala itu Bondowoso berhasil meraih predikat sebagai Kabupaten Sehat dengan penghargaan Swasti Saba kategori wiwerda dari Kementerian Kesehatan RI. Penyerahan penghargaan kategori Wiwerda itu, digelar di Kantor Kemendagri, Jakarta, 19 November 2019.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Terawan Agus Putranto dan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian kepada Kadinkes Bondowoso saat itu dr. Mohammad Imron.
Saat itu ia menyebut penghargaan tersebut diraih atas kerja keras Forum Kabupaten Sehat Kabupaten Bondowoso dengan lintas sektor terkait.
Setelah 2019, Bondowoso kembali meraih Kabupaten Sehat pada 2023.
Bondowoso mendapatkan penghargaan Swasti Saba (Kota Sehat) lantaran capaian lingkungan sehat dan berkualitas dan dinilai patut menerima penghargaan.
Swasti Saba merupakan penghargaan yang diberikan kepada Kabupaten atau Kota yang memenuhi kriteria sehat yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dan kegiatan yang terintegrasi dan telah disepakati oleh masyarakat dan Pemerintah Desa.
Kini, Pemkab kembali berupaya berupaya meningkatkan peringkat dalam program Kabupaten/Kota Sehat (KKS).
Saat ini, proses pengajuan masih dalam tahap penyusunan bukti pendukung, verifikasi dokumen, dan selanjutnya akan berlanjut pada verifikasi faktual. Jika pengajuan tersebut dinyatakan memenuhi kualifikasi, maka berbagai daya dukung lainnya harus segera dimantapkan.
Bupati Bondowoso, KH. Abdul Hamid Wahid, menegaskan bahwa pencapaian predikat KKS tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.
Seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, lembaga terkait, hingga peran aktif masyarakat, harus bersinergi.
“Kami berharap ini bisa menjadi pemandu sekaligus stimulan kita dalam bekerja, bagaimana konsep dan regulasi sehat benar-benar menjadi budaya hidup di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kesehatan bukan sekadar program, melainkan harus naik menjadi peradaban. Upaya ini membutuhkan kerja sama lintas sektor yang berkesinambungan.
“Stakeholder yang lain harus saling berperan, karena tujuan akhirnya kesehatan harus menjadi pilar dalam visi-misi kami saat ini,” tambahnya.
Bupati menekankan, capaian indikator-indikator kesehatan akan menjadi tolok ukur dalam proses penilaian.
Salah satunya adalah persoalan jambanisasi. Pihaknya terus mendorong agar masyarakat tidak lagi menggunakan sungai sebagai sarana mandi, cuci, maupun kakus.
“Ini contoh indikator yang sangat konkret, berapa persen masyarakat masih menggunakan sungai sebagai sarana MCK akan ikut menentukan,” jelasnya.
Selain itu, pembiasaan pola hidup bersih dan sehat juga akan menjadi target utama.
Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menjadikan tradisi dan kebiasaan baik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Goal dari proses ini adalah bisa menjadi sesuatu yang masuk dalam benak masyarakat, menjadi tradisi, bukan sekadar program,” ungkap Bupati.
Upaya mewujudkan Bondowoso sebagai Kabupaten Sehat tentu membutuhkan sinergi yang erat antara pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, hingga elemen terkecil di desa.
Dengan dukungan bersama, berbagai program kesehatan diyakini akan lebih mudah tercapai dan memberikan dampak langsung pada kualitas hidup warga.
Dengan langkah konsisten dan sinergi lintas sektor, Pemkab Bondowoso optimistis dapat meningkatkan peringkat dalam program KKS.
Lebih dari itu, pencapaian ini diharapkan menjadi wujud nyata komitmen bersama bahwa kesehatan adalah fondasi utama dalam pembangunan daerah. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi