Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

BERBEDA! Batik Bondowoso Punya Filosofi dan Ciri Khas Unik, Motif Kopi dan Tape Jadi Andalannya

Redaksi Radar Jember • Selasa, 26 Agustus 2025 | 20:16 WIB
KHAS: Batik Bondowoso menampilkan corak unik yang menggambarkan tentang kearifan lokal.
KHAS: Batik Bondowoso menampilkan corak unik yang menggambarkan tentang kearifan lokal.

radar jember - SELAIN Kopi yang jadi produk unggulan Bondowoso. Kain batik tak bisa dianggap sebelah mata. Batik Bondowoso kini terus memasarkan produk dengan ciri khas motif andalan.

Ciri khas motif yang menggambarkan identitas daerah. Dari daun singkong, kopi, hingga topeng kona dan singo ulung.

Setiap goresan batik menjadi media untuk memperkenalkan budaya Bondowoso ke nusantara bahkan ke mancanegara.

Inovasi itu salah satunya digarap oleh Sanggar Daweea Batik yang terletak di Desa Pucanganom, Kecamatan Jambesari yang konsisten mengangkat kearifan lokal dalam setiap karya.

Muhammad Badrus salam, pemilik Sanggar Daweea Batik mengatakan bahwa setiap motif memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat Bondowoso.

Misalnya daun singkong dipilih karena Bondowoso dikenal sebagai kota tape.

Sementara motif kopi merepresentasikan julukan Bondowoso sebagai Republik Kopi.

“Apa saja yang ada di Bondowoso kita promosikan lewat batik, dijadikan motif khas,” ujarnya.

Sebagai ciri khas, sanggar ini menciptakan motif unik seperti Singkong Songo dengan sembilan jari daun singkong.

Berbeda dari motif umum yang hanya tujuh. Ada pula motif pinang dan daun sirih yang terinspirasi dari kearifan lokal Desa Pucanganom.

Inovasi ini menjadi pembeda utama dalam persaingan batik yang semakin ketat.

Pemasaran batik Bondowoso sudah menjangkau berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari Banyuwangi, Probolinggo, Bali, hingga luar pulau Jawa.

Bahkan, menurut Badrus hampir setiap bulan ada turis asing yang datang ke sanggar untuk belajar membatik.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar pemasaran batik adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap batik asli.

Banyak yang menganggap kain printing sebagai batik, padahal UNESCO hanya mengakui batik dengan proses melanisasi menggunakan lilin (malam) dan canting.

Masih menurut Badrus, Pemkab selama ini telah memberikan dukungan kepada para pengrajin batik.

Namun, ia berharap ada edukasi lebih luas kepada masyarakat agar bisa membedakan batik asli dan kain motif batik.

Badrussalam berkomitmen terus memperluas pemasaran dengan strategi offline maupun online, serta bekerja sama dengan komunitas dan instansi yang peduli budaya.

“Harapan kami, batik Bondowoso bisa semakin dikenal luas, tidak hanya di nusantara tapi juga mancanegara,” pungkasnya. (mmg2/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#Bondowoso