radarjember.id – Penyakit infeksi masih mendominasi kasus yang ditangani dokter penyakit dalam sepanjang tahun ini.
Demam berdarah dengue (DBD) menjadi penyakit dengan jumlah kasus relatif stabil dari awal hingga akhir tahun.
Spesialis penyakit dalam RSUD Koesnadi dr. Yusdeni Lanaksati menjelaskan, Selain DBD, penyakit akibat gangguan metabolik seperti diabetes melitus (kencing manis) dan gangguan ginjal juga menempati posisi teratas.
“Kalau penyakit demam berdarah itu memang tidak pernah habis, sepanjang waktu ada. Tapi kalau dari penyakit dalam, yang paling banyak ya penyakit akibat gangguan metabolik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, diabetes kini dapat menyerang semua usia.
Diabetes tipe 1 biasanya muncul sejak usia muda, bahkan pada bayi, dan penderitanya harus menggunakan insulin.
Sedangkan diabetes tipe 2 umumnya dialami orang dewasa akibat pola hidup yang tidak sehat.
"Ini menjadi perhatian khusus, karena pola makan yang tidak sehat, maka dari itu masyarakat harus menerapkan pola hidup sehat sejak dini," katanya.
Menurutnya, penyakit muncul karena tiga faktor utama: kondisi tubuh, lingkungan, dan keberadaan kuman atau virus.
“Sebetulnya sakit itu tergantung tiga hal: manusianya, lingkungannya, dan kumannya. Kalau salah satunya tidak mendukung, tubuh bisa sakit. Misalnya daya tahan tubuh rendah, pola makan buruk, dan malas berolahraga,” jelasnya.
Daya tahan tubuh yang lemah, pola tidur tidak teratur, serta lingkungan kotor menjadi pemicu berbagai penyakit.
Karena itu, dr. Yusdeni mengimbau masyarakat meningkatkan imunitas dengan mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, olahraga teratur, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Menghilangkan sumber penyakit, seperti genangan air tempat nyamuk berkembang biak, dinilai penting untuk menekan angka kasus DBD.
“Kalau musim hujan, risiko penyakit makin tinggi, terutama yang disebabkan nyamuk dan lingkungan lembab. Saat pergantian musim, kewaspadaan harus lebih tinggi,” tegasnya. (faq/fid)
Editor : Adeapryanis