PRAJEKAN, Radar Ijen - Persoalan gula tak laku terjual kini menjadi masalah nasional. Di Bondowoso, kondisinya tak jauh berbeda dengan daerah lain.
Khusus untuk pabrik gula (pg) Prajekan sudah enam kali proses lelang digelar, namun ribuan ton gula tetap tak terserap pasar.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengungkapkan bahwa gula tersebut berasal dari panen yang dimulai pada Mei lalu dan sudah enam minggu terakhir tak laku di pasaran.
“Sekitar 4.000 ton lebih gula masih menumpuk di gudang. Kalau dikalikan dengan harga sesuai HPP Rp14.500 per kilogram, nilainya lebih dari Rp60 miliar,” katanya
Untuk PG Prajekan, Rolis menyebut setiap lelang biasanya hanya laku 1.000 ton. Sisanya tetap tertahan di gudang karena tidak ada pembeli. Kondisi ini, menurutnya, diperparah oleh masuknya gula impor yang mempengaruhi serapan gula produksi lokal.
"Kami berharap pemerintah turun tangan. Kalau tidak, tebu rakyat akan terdampak. Hasil penjualan gula ini sangat penting, bukan hanya untuk menutup biaya panen, tapi juga untuk membayar tenaga kerja dan modal tanam musim berikutnya,” ujarnya.
Rolis menegaskan, lelang gula diperuntukkan khusus bagi petani, sementara gula rafinasi tidak melalui mekanisme lelang. Akibat stagnasi penjualan ini, pihaknya terpaksa mencari solusi sementara dengan mengajukan pinjaman bank.
“Gula yang ada di gudang kami jadikan jaminan untuk mendapatkan dana talangan. Tapi cara ini tidak bisa dilakukan terus-menerus, karena ada bunga yang harus dibayar,” jelasnya.
Ia menambahkan, rendemen tebu saat ini berada di angka 7 persen, yang sebenarnya tergolong cukup baik.
Namun, kondisi ini tidak akan membantu jika produksi terus tersendat akibat gula yang tak terjual.
“Paling tidak dengan rendemen segitu petani tidak rugi. Tapi masalahnya bukan di kualitas, melainkan penyerapan,” tegasnya.
APTRI mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk kemungkinan menyerap gula petani agar produksi tetap berjalan.
“Kalau dibiarkan, bukan hanya petani yang rugi, tapi juga pekerja dan seluruh rantai produksi tebu rakyat akan terganggu,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi