PEKAUMAN, Radar Ijen – Tak hanya dikenal dengan tapenya, Bondowoso juga punya warisan budaya, tercatat ada lebih dari seribu peninggalan zaman megalitikum. Kini, warisan itu berpeluang naik kelas. Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) di Desa Pekauman, Grujugan bakal disulap menjadi museum.
Wacana itu mencuat usai Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, Ra Hamid, sapaan akrab bupati, menegaskan pentingnya menghadirkan museum megalitik di tengah kota yang dijuluki Bumi Ki Ronggo itu. “Jadi mengembangkan dan meningkatkan yang sudah ada menjadi museum,” ujarnya.
Menurut Ra Hamid, kehadiran museum akan mengangkat derajat PIMB yang selama ini hanya menjadi titik edukasi terbatas. Dengan status museum, tempat itu bisa menjadi lokomotif wisata budaya dan pusat riset megalitikum yang lebih representatif. Bondowoso memang bukan pemain baru dalam dunia megalitikum. Data terakhir mencatat ada 1.243 benda peninggalan megalitikum, mulai dari kubur batu, menhir, patung, hingga batu dakon yang tergolong temuan langka.
Sementara itu, Kasi Sejarah dan Purbakala Disparbudpora Bondowoso Hery Kusdaryanto mengatakan, ada 252 koleksi benda megalitik yang tersimpan rapi di PIM Bondowoso. Baik yang diletakkan dalam atau di luar ruangan. Hal tersebut terdiri dari berbagai jenis. Mulai dari batu kenong, batu dakon, hingga lapik arca.
Benda megalitik yang ditemukan di Bondowoso, lanjut Hery, menjadi yang paling lengkap di Jatim bahkan di Pulau Jawa. Maka tak heran, selama ini Bondowoso menjadi kiblat dan rujukan para peneliti benda megalitik. Selama ini, PIM Bondowoso banyak menjadi jujukan para akademisi dari berbagai daerah untuk melakukan penelitian. “Banyak akademisi dari berbagai perguruan tinggi, bahkan instansi terkait melakukan penelitian di Bondowoso,” katanya.
Kehadiran museum ini nantinya tak hanya menjadi etalase benda kuno, tapi juga wadah untuk menelusuri jejak tradisi megalitik tertua di Nusantara. Bahkan, Bondowoso diklaim memiliki tradisi megalitik yang paling panjang usia peradabannya dibandingkan daerah lain. “Sebetulnya Bondowoso sudah dari dulu (kaya megalitik, red). Tinggal bagaimana mengelola dan branding saja,” terangnya.
Jika terwujud, Museum Megalitikum Bondowoso bukan hanya menjadi kebanggaan lokal, tapi juga aset nasional. Kota Tape pun akan lebih dari sekadar manis di lidah, ia akan menjadi manis di ingatan sejarah. Hingga saat ini, belum ada Museum Megalitikum di Indonesia. Meski sejumlah daerah juga memiliki banyak peninggalan benda megalitik. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi