Tak semua sampah dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bondowoso langsung berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Di beberapa lokasi, pengelolaan dilakukan lebih cermat: dipilah, diolah, lalu dimanfaatkan kembali.
Salah satunya menjadi pakan maggot yang bernilai ekonomi.
ILHAM WAHYUDI, Badean – Radar Ijen
Setiap pagi, aroma sayuran sisa, kulit buah, hingga sisa nasi memenuhi halaman belakang Dapur SPPG Badean.
Di sudut ruangan, Mahfud, pelaku usaha pengelolaan sampah organik di Bondowoso tampak cekatan memasukkan limbah organik ke dalam kotak budidaya larva.
Tangannya lincah memasukan sampah organik dari dapur yang memproduksi makanan bergizi gratis itu ke dalam ember. Setidaknya 50 kilogram limbah organik itu diangkut olehnya.
“Semua ini jadi pakan maggot,” katanya.
Dapur SPPG Badean yang berada di bawah naungan Kodim 0822 Bondowoso itu memang menghasilkan limbah harian dalam jumlah besar.
Namun, pengelolaan dilakukan secara sistematis agar tak mencemari lingkungan.
Kepala SPPG Badean, Mila Afriana Agustin, menyebut bahwa pengelolaan melibatkan banyak pihak.
“MBG kami ada pengelolanya. Sampah diambil oleh bank sampah, pengelola maggot, dan juga warga sekitar,” jelasnya.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dijual terlebih dulu. Sisanya baru diangkut petugas kebersihan. Hanya sampah tak bernilai yang benar-benar masuk ke TPS, sehingga volume sampah ke TPA berkurang drastis.
Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Arh Achmad Yani, menegaskan bahwa pengelolaan sampah diserahkan ke masing-masing mitra pelaksana.
Yang terpenting, katanya, adalah menjaga lingkungan tetap bersih.
“Yang penting, jangan sampai mencemari lingkungan,” tegasnya.
Ia juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak selama tidak membebani biaya operasional Manajemen Berbasis Gizi (MBG).
“Silakan bekerja sama dengan bank sampah atau DLH, asal tidak memberatkan anggaran,” terangnya.
Berbeda dengan SPPG Badean, pengelolaan sampah di SPPG Desa Tegalpasir, Kecamatan Jambesari DS, masih dilakukan secara konvensional.
Mitra mandiri setempat, Sudarmo Putri, mengatakan bahwa sampah dari dapurnya dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Desa Koncer.
“Sampahnya langsung kami buang ke TPS Koncer, sudah dipilah sebelumnya. Diangkut pakai pikap oleh anak buah saya,” pungkasnya. (ham/dwi)
Editor : M. Ainul Budi