Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita dari Para Runners Juara Ijen BRO: Otot Saja Tak Cukup, Butuh Gaya Hidup Sehat

Yulio Faruq Akhmadi • Rabu, 2 Juli 2025 | 15:50 WIB
FINISH TERCEPAT: Firdauziah Sudarsono (kiri) dan Afran Sabaddha berhasil meraih podium pertama lomba lari 10K kategori putra dan putri, pada Ijen BRO, Minggu (29/6/2025).
FINISH TERCEPAT: Firdauziah Sudarsono (kiri) dan Afran Sabaddha berhasil meraih podium pertama lomba lari 10K kategori putra dan putri, pada Ijen BRO, Minggu (29/6/2025).

Radar Jember - Semua orang bisa berlari, tapi tak semua bisa juara.

Untuk menjadi pelari sejati, berlari saja tak cukup.

Perlu diimbangi dengan gaya hidup sehat yang lain.

Ini cerita juara 10K di Ijen BRO.

Suara peluit start baru saja ditiup di depan Mapolres Bondowoso, Minggu pagi (29/6/2025).

Ratusan pelari langsung melesat di lintasan sepanjang 10 kilometer dalam event Ijen Bhayangkara Run Olimpiade (Ijen BRO) 2025.

Di antara mereka, di kerumunan peserta putra, ada seorang prajurit TNI yang tampil tak begitu mencolok.

Namun, justru menyimpan kekuatan tersembunyi di balik tubuh rampingnya.

Namanya adalah Afran Sabaddha.

Afran melintasi garis start hingga finish kategori 10 kilometer putra, dalam waktu 30 menit 57 detik.

Dia pun meraih podium pertama atau juara satu dalam ajang yang digelar Jawa Pos Radar Ijen bekerja sama dengan Polres Bondowoso itu.

Menjadi peserta tercepat dan cukup jauh dengan peserta lain di belakangnya.

Pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat, itu kini bertugas di Yonif 514 Bondowoso.

Dikatakan, setiap harinya, dia tak hanya lari.

Namun, ada gaya hidup yang harus dijalani.

“Saya bukan hanya lari. Kalau cuma lari doang, nanti lutut bisa cepat habis. Makanya saya gabungkan dengan latihan beban, fokus ke otot perut dan paha,” ujarnya saat ditemui seusai lomba.

Meski kesehariannya padat sebagai tugas tentara aktif, dia tak pernah absen menjaga kondisi fisik lewat sesi fitness yang disiplin.

Baginya, pelari yang kuat bukan hanya punya paru-paru bagus, tapi juga fondasi otot yang kokoh.

“Saya hindari makanan gorengan, juga makanan cepat saji. Kalau mau turun ke lomba, badan harus dalam kondisi bersih. Itu yang menjaga performa tetap stabil,” tambahnya.

Afran bukan pendatang baru di dunia lari.

Di ajang Lombok International Marathon yang diikuti pelari dari 17 negara, dia berhasil masuk 10 besar untuk kategori 42K.

Lari bukan lagi sekadar hobi, tapi medan juang baginya.

Sebuah kombinasi antara teknik, kekuatan, dan kecermatan menjaga tubuh.

Di lain lintasan, ada perempuan muda yang juga bersinar.

Firdauziah Sudarsono mencatatkan waktu 42 menit 11 detik dan menjadi pelari tercepat kategori putri.

Perempuan 20 tahun itu juga punya pendekatan latihan yang serupa.

Gabungan antara daya tahan dan kekuatan otot.

“Kalau mau kuat, ya, harus jaga semuanya. Saya biasa ikut 21K, dan alhamdulillah sering podium. Tapi yang bikin kuat itu bukan cuma latihan lari. Makan, tidur, dan recovery juga penting,” katanya.

Dengan postur tubuh kecil dan langkah yang efisien, Firda, sapaannya, telah menorehkan berbagai prestasi di level nasional.

“Terbaru saya ikut marathon di Surabaya dan Malang, keduanya jarak 21 kilometer. Alhamdulillah, keduanya podium satu. Menurut saya kunci menang marathon itu harus pintar menjaga kondisi. Mulai dari latihannya, makannya, tidurnya semua harus dijaga, dan harus konsisten,” tuturnya. Mendengar cerita dari masing-masing pelari, tak ada istilah akan bisa menjadi juara tanpa berlatih. (c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#event running #Polres Bondowoso #Radar Ijen #10k run #Bondowoso #5K Fun Run #Ijen Run and Charity