PHIG BONDOWOSO
EKSOTIS: Sejumlah pengunjung berkemah di Puncak Megasari (Dulu) untuk menikmati panorama alam yang disediakan.
TERKENDALA: Salah satu atlet Paralayang bersiap landing di sekitar Puncak Megasari. Saat ini tempat tersebut dikelola oleh PTPN 1 Regional 5.
Puncak Megasari Nasibmu Kini
Dulu Jadi Andalan Kini Tak Terawat dan Terbengkalai
Puncak Megasari sempat menjadi perhatian tim asesor Unesco Global Geopark. Karena dari tempat itu dapat melihat secara jelas Landscape Ijen Purba. Namun, saat kondisi mulai terbengkalai. Apa penyebabnya?
ILHAM WAHYUDI, Ijen - Radar Ijen
Rumput liar tumbuh subur, sampah plastik berserakan, gazebo dan sejumlah fasilitas lainnya rusak parah. Itulah kondisi Puncak Megasari saat ini. Hal tersebut jauh berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
Puncak Megasari sempat menjadi jujugan wisatawan, dengan panorama alam yang ditawarkan. Wisata tersebut sempat digunakan untuk take off paralayang, hingga tempat camping para wisatawan dari berbagai daerah. Pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alam khas Ijen Purba. Mulai dari Gunung Rante, Gunung Ijen, Gunung Widodaren, Gunung Blawu, Gunung Papak, dan Gunung Ringih.
Puncak Megasari atau dikenal dinding Kaldera Ijen dulunya merupakan tempat lokasi take off Paralayang dan Gantole. Puncak ini berada di ketinggian 1598 mdpl. Banyak masyarakat datang kesana untuk camping, atau pun menikmati pemandangan pegunungan yang memanjakan mata.
Namun sayang, belakang beredar video yang memperlihatkan kondisi Puncak Megasari terbengkalai. Gazebo yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah rusak parah. Sampah berserakan, hingga rumput liar tumbuh dengan subur di berbagai tempat.
Hal itu membuat sejumlah pengunjung merasa kecewa, ketika mendatangi Puncak Megasari. Selain aksesnya yang sulit dilewati, kondisi destinasi wisata alam itu kini tak terawat. Seperti yang dirasakan oleh Saim Warga Bondowoso, Sabtu (7/6) lalu.
Pria tersebut berniat camping di Puncak Megasari bersama istrinya. Namun pasca mengetahui kondisi terkini, dia mengaku terkejut dan memutuskan untuk langsung pulang dengan rasa kecewa. “Sebelumnya saya tidak tahu, kalau sekarang Puncak Megasari sudah seram sekali. Beda banget dengan dulu,” katanya.
Ia mengaku sangat sedih melihat fasilitas dan tempat yang dulunya jadi spot eksotis, namun saat ini berbanding terbalik. Akibat dan ada perawatan dari para pihak terkait. Jalan menuju ke lokasi, kata Saim, juga sudah rusak. Hanya tersisa sedikit jalan yang di rabat. "Saya baru pertama kali ke Megasari, karena penasaran. Eh kok banyak bangunan terbengkalai," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Bondowoso Sutriyono mengatakan, Puncak Megasari merupakan potensi wisata yang bisa dijual kepada khalayak umum. Meski butuh pengelolaan yang ekstra, mengingat lokasinya berada di atas dataran tinggi. “Dengan keterbatasan anggaran, semua tetap harus tercover,” ucapnya.
Dia juga menyebut, jalan menuju Puncak Megasari rusak pasca terjadi longsor beberapa waktu lalu. Hal itu membuat pengunjung takut untuk mendatangi wisata yang ada di Desa Penang, Kecamatan Botolinggo itu. Oleh sebab itu, dia mendorong agar akses masuk dapat dipelihara dengan baik. (bud)
Editor : M. Ainul Budi