Seperti yang dialami oleh Yunda, peternak rumahan asal Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. Di kandang sederhana miliknya yang dibagi menjadi empat sekat, sebanyak 40 ekor kambing tampak sehat dan siap jual. Dari jumlah itu, 10 ekor sudah lebih dulu dipesan untuk keperluan kurban. “Alhamdulillah, sepuluh sudah laku. Pembelinya warga Bondowoso, rata-rata untuk kurban,” ujarnya.
Dia memang bukan peternak besar, karena hanya menggeluti usaha ini secara mandiri di pekarangan rumah miliknya. Pria tersebut fokus pada penggemukan kambing jantan. Anakan kambing dibeli saat berusia sekitar enam bulan, kemudian digemukkan hingga usia layak kurban. “Saya nggak ternak bibit, semua jantan. Jadi memang saya fokus di penggemukan buat Idul Adha,” terangnya.
Untuk pakannya, Dia mengandalkan rumput segar yang ia cari sendiri. Aktivitas mencari rumput ini ia jalani hingga empat kali dalam sehari, dari kebun atau ladang sekitar rumahnya. “Pakan rumput bikin dagingnya lebih padat dan sehat. Kalau pakai pakan buatan, saya kurang sreg,” katanya.
Jenis kambing yang ia jual cukup beragam, mulai dari kambing Merino, domba., hingga hasil persilangan. Harga jualnya pun bervariasi, tergantung ukuran dan kondisi fisik hewan.
Hewan peliharaannya dibandrol dengan harga mulai dari Rp 1,3 juta hingga Rp 3 juta per ekor. Menariknya, meski sudah laku, kambing-kambing tersebut tetap dititipkan di kandangnya. Biasanya pembeli baru akan mengambil dua hingga tiga hari sebelum idul adha. “Kalau sakit sebelum diambil, saya ganti. Yang penting usia di atas satu tahun dan sehat,” tegasnya. (ham/fid)
Editor : Hafid Radar Jember