DABASAH, Radar Ijen - Sebuah terobosan baru muncul di dunia perkopian Bondowoso. Tak sekadar cafe atau tempat nongkrong saja.
Kini laboratorium kopi pertama resmi berdiri di jantung kota. Lokasinya ada di Kelurahan Dabasah, Bondowoso.
Tempat tersebut tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga menyediakan fasilitas lengkap untuk uji kualitas, edukasi, hingga riset kopi.
Laboratorium ini berada di bawah naungan PT Mulia Indonesia Timur, diresmikan Sabtu (31/5) lalu.
Menariknya, bangunan laboratorium merupakan bekas rumah dinas milik Perhutani KPH Bondowoso yang kini disulap menjadi pusat aktivitas perkopian modern.
“Kami ingin kopi Bondowoso punya kualitas dan sertifikat ekspor. Targetnya bisa tembus pasar Eropa,” kata Mulyadi Direktur PT Mulia Indonesia Timur.
Selain jadi tempat uji mutu dan kontrol kualitas kopi, laboratorium ini juga dibuka untuk edukasi publik.
Sasarannya tak main-main, pelajar, santri pesantren, hingga masyarakat umum yang ingin belajar tentang dunia kopi dari hulu ke hilir.
“Kami ingin anak muda bisa belajar bagaimana kopi diolah, diuji kualitasnya, hingga tahu proses grading,” ucapnya.
Laboratorium ini juga dilengkapi alat-alat pengolahan dan pengujian kopi yang didatangkan langsung dengan dana pribadi Mulyadi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Tempat itu dianggap langkah awal untuk mewujudkan mimpi menjadikan Bondowoso sebagai kiblat kopi Indonesia.
Tak hanya berhenti pada bangunan fisik, Mulyadi juga menyiapkan pasokan kopi dari hulunya.
Bersama Perhutani KPH Bondowoso, perusahaan ini menggarap lahan kopi seluas ratusan hektar di kawasan Lereng Ijen-Raung. Dari total lahan itu, sekitar 400 hektar sudah mulai digarap.
“Kerja sama ini jadi langkah strategis untuk membangun ekosistem kopi Bondowoso yang kuat. Kita ingin petani naik kelas, produknya punya nilai lebih,” imbuhnya.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, juga mendukung penuh pendirian laboratorium kopi terebut.
Ia menyebut, lahan Perhutani di Bondowoso dan Situbondo yang cocok ditanami kopi mencapai 40 ribu hektar, namun baru 10 ribu hektare yang termanfaatkan.
“Itu kawasan yang bisa dikelola dengan baik, untuk pertanian kopi,” pungkasnya. (ham)
Editor : Nur Hariri