Letusan Dahsyat Ijen Purba Lahirkan 22 Anak Gunung, Kawah Raksasa Jadi Permukiman Warga
BONDOWOSO – Letusan super dahsyat Gunung Ijen Purba yang terjadi sekitar 70.000 tahun lalu meninggalkan jejak geologi yang luar biasa.
Proses geologi itu bermula dari tekanan kuat akibat akumulasi gas di dapur magma yang akhirnya memicu letusan besar.
Gas yang sangat banyak tersebut meledak bersama magma, menghasilkan material batu apung yang terlontar dan mengendap di permukaan.
Letusan besar tersebut tak hanya menghasilkan material vulkanik, tetapi juga aliran piroklastik yang sangat panas dan bergerak cepat menuruni lereng utara gunung.
Aliran ini dikenal sebagai ignimbrite.
Energi letusan begitu besar hingga mengosongkan dapur magma dan memicu keruntuhan struktur bagian atas gunung.
Keruntuhan ini membentuk kaldera raksasa—struktur menyerupai wajan raksasa—yang kini dikenal sebagai Kaldera Ijen.
Menariknya, di dalam kaldera tersebut kini berdiri permukiman penduduk.
Retakan-retakan pasca letusan mempercepat amblesnya tubuh gunung, menciptakan tebing-tebing tinggi yang mengelilingi kawasan kaldera.
Letusan Gunung Ijen Purba juga memunculkan 22 anak gunung yang tersebar di dalam dan di dinding kaldera.
Sebanyak enam di antaranya berada di dinding kaldera, yakni Gunung Suket, Jampit, Rante, Ringgih, Pawenan, dan Gunung Merapi.
Sementara 16 lainnya tersebar di dalam kaldera, termasuk Gunung Blau, Papak, Widodaren, Kawah Wurung, dan Gunung Kawah Ijen yang kini dikenal luas.
Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Kabupaten Bondowoso, Tantri Raras Ayunintiyas, menjelaskan bahwa Gunung Ijen Purba menjadi salah satu elemen utama dalam keberadaan Ijen Geopark yang kini berstatus sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2023.
Kaldera besar hasil letusan purba ini menjadi warisan geologi yang unik dan hanya bisa ditemukan di Kabupaten Bondowoso.
“Gunung tertua dari hasil letusan tersebut adalah Gunung Blau, yang kini juga dikenal lewat kopi blue mountain.
Sementara gunung termuda adalah Gunung Ijen, yang sekarang dikenal sebagai Kawah Ijen dengan fenomena api birunya,” ujar Tantri.
Ia menambahkan, keberadaan Ijen Geopark bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk konservasi.
“Melalui Ijen Geopark ini, kita mengedukasi masyarakat agar ikut menjaga kelestarian alam.
Ijen harus tetap asri dan tidak rusak, karena nilai ekologis dan geologisnya luar biasa,” tegasnya.
Editor : M. Ainul Budi