radar jember - Keindahan Kawah Ijen dengan fenomena alamnya yang langka, yaitu blue fire atau api biru, telah menjadi magnet wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa untuk menyaksikan keajaiban alam ini secara maksimal, ada waktu-waktu tertentu yang paling direkomendasikan.
Menurut petugas Balai Konservasi Kawah Ijen, waktu terbaik untuk menikmati fenomena api biru adalah antara pukul 01.00 hingga 04.00 dini hari, saat suhu masih sangat rendah dan kabut belum turun tebal.
Pada jam tersebut, nyala biru dari belerang yang terbakar tampak lebih jelas dan dramatis, terutama saat cuaca cerah tanpa gangguan awan.
“Sebaiknya wisatawan sudah mulai pendakian sekitar jam 01.00 dari Paltuding, jadi saat tiba di kawah, blue fire-nya masih terlihat sempurna,” ujar Dwi Santoso, petugas lapangan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen
Selain waktu malam untuk melihat blue fire, pemandangan terbaik dari kawah dan danau berwarna hijau toska bisa dinikmati setelah matahari terbit, sekitar pukul 05.30 hingga 07.00 pagi.
Pada saat itu, cahaya matahari menyinari permukaan kawah dan menghasilkan gradasi warna yang sangat Instagramable.
Namun, wisatawan juga diimbau memperhatikan musim dan cuaca.
Bulan terbaik untuk mendaki Ijen adalah antara Mei hingga Oktober, karena cuaca cenderung cerah dan tidak terlalu berkabut.
Di musim hujan, jalur pendakian menjadi licin dan fenomena blue fire sulit terlihat akibat curah hujan dan kabut tebal.
“Banyak yang kecewa karena datang di waktu yang tidak tepat. Padahal kalau tahu jadwal idealnya, mereka bisa dapat pengalaman yang luar biasa,” tambah Dwi.
Selain itu, pihak pengelola juga mengingatkan bahwa Kawah Ijen saat ini masih berada dalam status Waspada (Level II)sejak pertengahan 2024.
Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk mengecek informasi resmi sebelum merencanakan pendakian dan selalu menjaga jarak aman dari kawah.
Dengan perencanaan waktu yang tepat dan kesiapan fisik, wisata Kawah Ijen tak hanya memberi panorama alam yang memukau, tapi juga pengalaman spiritual dan petualangan yang tak terlupakan.
Penulis: Anik Kholifatul Imania