Radar Jember – Siapa sangka sebuah kabupaten kecil di ujung timur Pulau Jawa mampu menggebrak dunia dengan aroma kopi khas dari lereng pegunungan.
Inilah yang terjadi pada Bondowoso sejak mendeklarasikan diri sebagai "Bondowoso Republik Kopi" (BRK) pada Mei 2016.
Langkah ini bukan sekadar branding, melainkan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam mengangkat martabat petani dan memperkuat identitas daerah melalui komoditas unggulan kopi arabika.
BRK lahir dari proses panjang sejak tahun 2011, ketika Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai membentuk klaster kopi arabika bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Perhutani, Bank Indonesia, serta para petani kopi lokal.
Upaya ini bertujuan menciptakan ekosistem pertanian kopi yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup petani di kawasan dataran tinggi Ijen-Raung.
Puncak dari perjuangan ini adalah keberhasilan kopi arabika Java Ijen-Raung mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2013.
Sertifikasi ini menjadi pengakuan resmi atas keunikan rasa, aroma, dan kualitas kopi Bondowoso yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
IG juga menjadi bukti bahwa kopi ini memiliki keterkaitan erat dengan kondisi geografis dan budaya lokal yang membentuk karakternya.
Kopi Java Ijen-Raung tumbuh di ketinggian antara 1000–1600 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan dan suhu yang ideal untuk budidaya arabika.
Tanah vulkanik yang kaya mineral turut memperkaya cita rasa kopi, menghadirkan sensasi asam segar berpadu dengan aroma floral dan spicy yang khas.
Hal inilah yang membuat kopi dari wilayah ini berhasil menembus pasar ekspor dan menjadi primadona dalam pameran-pameran kopi nasional maupun internasional.
Konsep "Republik Kopi" bukan hanya simbol.
Pemerintah Bondowoso mendorong lahirnya berbagai inisiatif seperti festival kopi tahunan, pelatihan barista dan roaster, hingga pengembangan desa wisata kopi.
Semua ini dilakukan agar kopi tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga identitas budaya dan daya tarik pariwisata.
Kini, kopi Bondowoso tidak hanya dinikmati di meja-meja rumah penduduk lokal, tetapi juga telah mengisi cangkir para penikmat kopi di Eropa, Asia, hingga Amerika.
Perjalanan panjang dari lereng Ijen menuju panggung global ini membuktikan bahwa dengan kolaborasi, visi, dan cinta terhadap potensi lokal, Bondowoso pantas menyandang gelar Republik Kopi.
Dengan capaian ini, Bondowoso tak lagi sekadar wilayah penghasil kopi, melainkan telah menjadi ikon pergerakan ekonomi kreatif berbasis pertanian yang menginspirasi daerah lain di Indonesia.
Penulis: Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi