Radar Jember – Sebelum dikenal sebagai Republik Kopi, Bondowoso telah menyimpan sejarah panjang dan kompleks tentang kopi.
Tak banyak yang tahu, bahwa jejak perkopian di kabupaten yang berada di kaki Gunung Ijen ini telah dimulai sejak era kolonial Belanda.
Tanah subur dan iklim ideal Bondowoso menjadi daya tarik bagi pemerintah kolonial untuk membuka perkebunan kopi skala besar.
Salah satu wilayah yang menjadi sentra kopi sejak awal adalah Sumber Wringin.
Menurut catatan sejarah, sejak akhir abad ke-19, Belanda telah menanam kopi arabika di kawasan ini, memanfaatkan kondisi geografis yang mendukung serta tenaga kerja lokal.
Kopi dari Bondowoso pada masa itu menjadi salah satu komoditas ekspor penting Hindia Belanda.
Bahkan, kopi dari wilayah Ijen-Raung sempat dikapalkan ke Eropa dan mendapat reputasi tinggi karena cita rasanya yang khas.
Namun, seiring waktu dan perubahan politik, kejayaan itu sempat meredup pasca kemerdekaan.
Memasuki era modern, geliat perkopian Bondowoso kembali bangkit.
Tahun 2011 menjadi titik balik saat pemerintah daerah mulai membentuk klaster kopi arabika bekerja sama dengan Puslitkoka, Perhutani, Bank Indonesia, dan komunitas petani.
Tujuannya jelas: mengembalikan kejayaan kopi Bondowoso dan meningkatkan taraf hidup petani.
Puncak dari upaya ini adalah saat kopi arabika Java Ijen-Raung mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2013.
Sertifikasi ini menandai pengakuan resmi atas kualitas dan keunikan kopi Bondowoso yang hanya bisa tumbuh di daerah ini.
Setahun kemudian, konsep besar bernama Bondowoso Republik Kopi (BRK) lahir dan dideklarasikan pada tanggal 22 Mei tahun 2016 oleh Bupati Amin Said Husni.
Sejak saat itu, sejarah kopi Bondowoso tak hanya ditulis oleh perkebunan, tetapi juga oleh inovasi, kolaborasi, dan semangat kolektif.
BRK membawa angin segar dalam bentuk festival tahunan, pelatihan untuk petani dan barista, serta promosi kopi lokal ke kancah internasional.
Kopi tidak lagi hanya soal produksi, melainkan juga bagian dari narasi identitas.
BRK telah menghidupkan kembali warisan lama dan memadukannya dengan semangat zaman.
Kini, Bondowoso berdiri sebagai contoh daerah yang berhasil menghidupkan sejarah untuk menatap masa depan.
Dengan setiap tegukan kopi Bondowoso, tersimpan cerita panjang tentang tanah, keringat petani, dan perjuangan membangun kembali nama besar yang sempat terlupakan.
Dari era kolonial hingga era Republik Kopi, Bondowoso membuktikan bahwa warisan bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan visi.
Penulis: Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi