radarjember.id - Menjelang musim tanam tembakau 2025, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, Ahmad Yasid, meminta agar para petani tidak sekadar ikut-ikutan menanam tembakau dalam skala besar, namun harus lebih rasional dalam merencanakan usaha taninya.
"Kami dari APTI Bondowoso menyongsong musim tanam 2025 ini dengan perencanaan matang, mulai dari pembibitan, persiapan lahan, pemeliharaan, hingga panen," ujarnya.
Dia menekankan bahwa manajemen usaha tani tembakau harus dilakukan secara menyeluruh, dengan memperhatikan jenis varietas yang dibutuhkan pasar, baik pabrikan besar maupun kecil seperti Maesan satu dan dua.
Dia juga menyoroti tren meningkatnya minat petani untuk menanam tembakau akibat kenaikan harga yang signifikan dalam dua tahun terakhir. "Di tahun 2023 harga rajangan rata-rata mencapai Rp55 ribu, dan naik menjadi Rp60 ribu pada 2024. Ini tentu berdampak pada animo petani," katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa fenomena ini bisa menimbulkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan. Berdasarkan analisis APTI, luas tanam ideal di Bondowoso adalah 6.500 hektare. Tahun 2024, realisasi luas tanam sudah mencapai 8.424,40 hektare, dan rencana tanam tahun 2025 naik lagi menjadi 8.912,874 hektare.“Kalau produksi terus meningkat sementara kebutuhan pabrikan sudah mencukupi, akan ada kelebihan pasokan di tingkat petani. Ini tentu akan berdampak pada harga,” jelasnya.
Dia juga mengingatkan tentang keterbatasan tempat penyimpanan dan modal di gudang, karena tembakau biasanya disimpan dan digunakan dalam rentang waktu dua sampai tiga tahun. "Jika tempat penampungan penuh, maka akan menjadi kendala besar," tambahnya.
Oleh karena itu, Yasid menegaskan pentingnya edukasi kepada petani agar tidak hanya mengandalkan emosi atau tren sesaat. “Petani harus lebih rasional dan bijak dalam menentukan langkahnya. Sedikit, tapi produktivitasnya bagus, petani tidak akan kalah,” tegasnya.
Dia pun mendorong agar petani memanfaatkan informasi dari BMKG untuk memperkirakan kondisi cuaca, serta mengikuti pelatihan pertembakauan dan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) baik pra maupun pascapanen, guna meningkatkan kualitas dan keuntungan.“Peningkatan kualitas tembakau akan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas,” pungkasnya. (faq/fid)Top of Form
Editor : Adeapryanis