BADEAN, Radar Ijen - Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) mulai mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan melalui program pemeliharaan rutin.
Program ini menjadi bagian dari capaian quick win 100 hari kerja Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid.
Plt Kepala Dinas BSBK Ansori menyampaikan bahwa saat ini pihaknya masih memprioritaskan pemeliharaan rutin sebagai strategi utama dalam menjaga kondisi jalan. Khususnya di wilayah perkotaan.
"Fokus kami saat ini adalah pemeliharaan rutin jalan. Itu yang kami dorong sebagai langkah percepatan pembangunan infrastruktur," ujarnya.
Ia menyebut, pemeliharaan rutin lebih memungkinkan untuk ditangani secara cepat dan efisien.
Dibandingkan pemeliharaan berkala atau rekonstruksi yang memerlukan kajian lebih dalam dan anggaran besar.
Tiga ruas jalan utama di wilayah kota menjadi sasaran prioritas dalam triwulan pertama 2025, yaitu Jalan Dr Sutomo, Kolonel Sugiono (arah utara), dan HOS Cokroaminoto.
Dari ketiga ruas tersebut, perbaikan yang telah dilakukan mencakup total luas 190 meter persegi. Ansori menegaskan progres pengerjaan tersebut telah mencapai 100 persen.
"Untuk triwulan pertama, kami tangani seluas 190 meter persegi dan sekarang sudah selesai seluruhnya. Ke depan kami tetap fokus pada pemeliharaan rutin," tambahnya.
Meski begitu, ia tak menutup kemungkinan untuk melakukan perbaikan total apabila ada hasil evaluasi dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait.
Secara keseluruhan, terdapat 16 ruas jalan di wilayah kota yang berada di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bina Marga Bondowoso dan menjadi tanggung jawab BSBK.
Ansori menjelaskan bahwa pemetaan kondisi jalan di kawasan perkotaan telah dilakukan.
Dari hasil pemetaan tersebut, langkah pemeliharaan rutin menjadi langkah yang paling relevan untuk saat ini.
"Kalau pemeliharaan berkala itu biasanya sudah masuk kategori rehabilitasi. Sedangkan rekonstruksi dilakukan bila tingkat kerusakan jalan di atas 23 persen. Untuk saat ini, tingkat kerusakan di jalan-jalan kota masih di bawah 10 persen, sehingga cukup ditangani dengan pemeliharaan rutin," jelas Ansori.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan baru akan dilakukan jika di lokasi sebelumnya belum terdapat infrastruktur jalan sama sekali.
Sementara, untuk kondisi existing, pendekatan perbaikan lebih dititikberatkan pada keberlanjutan dan efisiensi melalui pemeliharaan yang berkala.
"Kalau tidak ada jalan menjadi ada, itu baru namanya pembangunan. Sementara yang ada, kita jaga dengan pemeliharaan yang maksimal," pungkasnya. (faq/c2/bud)
Editor : M. Ainul Budi