Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita Dibalik Tetap Eksisnya Kue Satru Dari Maesan Bondowoso Berdiri Sejak 1975 Hingga Sekarang, Jajanan yang Banyak Dicari Saat Lebaran

Radar Digital • Jumat, 4 April 2025 | 21:40 WIB
TERAMPIL: Pembuatan kue satru di Kecamatan Maesan, membuat jajanan yang banyak dicari jelang lebaran. (ILHAM/RJ)
TERAMPIL: Pembuatan kue satru di Kecamatan Maesan, membuat jajanan yang banyak dicari jelang lebaran. (ILHAM/RJ)

MAESAN, Radar Ijen - Siapa tak tahu kue satru?, kue tersebut menjadi salah jajanan yang banyak diminati. Maka tak heran pemilik usaha tersebut tetap eksis dan kebanjiran pesanan hingga saat ini.

Salah satunya Heni Nurhidayati, pemilik usaha Kue Satru di Desa/Kecamatan Maesan Bondowoso. Usahanya sudah berdiri sejak 1975 silam, namun hingga saat ini tetap eksis bahkan semakin banyak dicari oleh warga.

Hal itu membuatnya memproduksi lebih banyak kue saat Ramadan hingga idul fitri.

Meski pada hari biasa, dia juga produksi sesuai pesanan pelanggan.

Heni menyebut, dalam sehari selama Ramadan bisa memproduksi 50 kilogram kue satru. Jumlah tersebut menghabiskan bahan baku tepung kurang lebih 40 kilogram.

Harganya dibanderol mulai dari Rp 50 hingga 52 ribu per kilogram.

“Meski lumayan banyak. Sering kehabisan stok masih,” katanya.

Dia juga menjelaskan resep pembuatan kue satru, diturunkan oleh orang tuanya turun temurun sejak 1975 silam.

Secara umum sama dengan resep pembuatan kue satru lainnya. Seperti tepung kacang hijau, gula alami, vanili, dan susu.

"Yang berbeda itu takarannya. Itu rahasia resep keluarga," imbuhnya. 

Kue Satrunya setiap hari selama ramadan ini tak dijajakan langsung. Melainkan, sudah ada reseller yang menjual ke berbagai kota. Seperti Jember, Situbondo, Surabaya, termasuk Bondowoso sekitarnya.

“Pelanggan datang sendiri biasanya,” imbuhnya.

Proses pembuatannya pun tak beda jauh dengan yang lain. Yakni diawali dengan menyangrai kacang hijau, yang kemudian diselep. Tepungnya ini diadoni dengan gula, susu, dan vanili.

"Baru kemudian dicetak, dan di oven pas," ujarnya. 

Meski telah lama berdiri, kaya Naina, usahanya tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Padahal, dirinya berharap mendapatkan dukungan bantuan peralatan. Sebut saja seperti oven, kompor, dan lainnya.

"Kalau harapan ingin dapat bantuan yang dibutuhkan, seperti oven, kompor," tandasnya. (ham)

 

Editor : M. Ainul Budi
#kue satru #Kuliner Bondowoso