Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petani Kopi Lokal Punya Harapan Besar Soal Bondowoso Republik Kopi Dihidupkan Lagi, Berharap Bisa Eksis Lagi di Pasar Luar Negeri

Radar Digital • Jumat, 4 April 2025 | 15:45 WIB

 

 

MENCERMATI: Warga saat melihat proses roasting kopi. Awal tahun ini Pemkab Bondowoso masih berfokus pada program prioritas nasional. Sehingga event BRK Reborn tidak bisa digelar awal tahun.
MENCERMATI: Warga saat melihat proses roasting kopi. Awal tahun ini Pemkab Bondowoso masih berfokus pada program prioritas nasional. Sehingga event BRK Reborn tidak bisa digelar awal tahun.

TAMANSARI, Radar Ijen - Kopi Bondowoso kembali mencetak prestasi membanggakan. Kopi Arabika Ijen-Raung kini menembus jaringan internasional dan menjadi salah satu produk yang dipasok ke Starbucks melalui PT Sucafina Indonesia Coffee.

Keberhasilan ini tak lepas dari upaya panjang petani dalam meningkatkan kualitas produksi mereka. Dengan munculnya berbagai prestasi ini, tak sedikit pengusaha ataupun petani kopi, ingin Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali dihidupkan.

Seorang petani kopi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin,  Harsono, menjelaskan, Sejak mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2013, kopi rakyat dari lereng Ijen-Raung terus mengalami peningkatan kualitas.

Dirinya merasakan langsung dampak positif dari pembinaan yang diberikan oleh pemerintah dan berbagai lembaga terkait.  

“Kami petani tidak hanya menanam dan menjual kopi, tetapi juga belajar menjadi pengusaha. Kini, petani bukan sekadar produsen, tapi juga memiliki kendali atas bisnisnya,” ujarnya.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemkab Bondowoso, Bank Indonesia, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), menjadi kunci dalam meningkatkan mutu kopi lokal.

Pembinaan intensif mengajarkan petani teknik pemetikan selektif (petik merah) dan pengolahan pasca-panen yang lebih baik. Bahkan BRK Reborn juga mulai menjadi topik oembicaraan dilingkungan petani maupun pengusaha kopi.

Saat ini, harga kopi green bean Arabika Ijen-Raung berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga kopi Robusta yang mulai diminati di pasar juga mengalami kenaikan, mencapai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.  

“Kenaikan harga ini menunjukkan bahwa kopi Bondowoso memiliki daya saing tinggi. Namun, tantangannya adalah bagaimana mempertahankan kualitas seiring dengan meningkatnya jumlah petani baru,” ungkapnya.

Meski sukses menembus pasar global, para petani berharap pemerintah terus hadir dalam mendukung keberlanjutan industri kopi di Bondowoso.

Salah satu perhatian utama adalah penguatan kembali Bondowoso Republik Kopi (BRK), sebuah branding yang telah mengangkat citra kopi Bondowoso di tingkat nasional dan internasional.

 “Saya berharap BRK kembali digaungkan dan disosialisasikan, sehingga petani dan pengusaha kopi bisa lebih termotivasi untuk menjaga kualitas. Kopi Bondowoso sudah mendunia, tinggal bagaimana kita memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambahnya,” tambahnya.

Selain itu, petani juga meminta kemudahan akses permodalan dari perbankan serta fasilitasi pemerintah dalam membuka jalur distribusi langsung, tanpa harus bergantung pada pihak ketiga.

“BUMD yang ada harus benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung permodalan dan pemasaran kopi Bondowoso secara lebih luas,” pungkasnya. (faq)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Petani #brk #kopi bondowoso