KEJAYAN, Radar Ijen - Pasar Rakyat di Desa Kejayan, Kecamatan Pujer, Bondowoso sampai saat ini masih sepi. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Ijen di lokasi, hanya ada satu kios yang digunakan sehari-harinya. Padahal terdapat 18 kios dan puluhan los yang tersedia di pasar tersebut. Sementara setiap hari Kamis, ada pasar hewan khusus kambing dan unggas.
Salah satu warga di sekitar Pasar Rakyat Kejayan, Rudiyanto mengatakan memang setiap Kamis masih ada yang berjualan. "Tapi khusus kambing dan burung. Berjualan di dalam. Tapi tidak di dalam gedung itu," tuturnya, Selasa (11/2). Dia mengungkapkan bahwa saat pasar ini pertama kali dibuka pada 2018 lalu, sempat ada penjual. Namun, jualan mereka tidak laku.
Rudiyanto pun berharap ada solusi terkait minimnya pemanfaatan pasar ini. Apalagi informasi yang dihimpun pembangunan pasar ini menelan anggaran sekitar Rp 5 miliar pada 2018 silam.
Kepala Bidang Perdagangan, di Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Totok Hariyanto mengatakan bahwa semula itu memang pasar hewan. Namun, waktu itu, di ruas jalan Desa Mengok yang menuju Desa Alas Sumur, banyak orang berjualan di pinggir jalan. "Karena kita punya pasar hewan, rencana waktu itu mau direhab," tuturnya.
Sehingga pemerintah sekalian membangun untuk para penjual yang di pinggir jalan tersebut agar pindah ke pasar baru itu. Hal ini juga agar tidak mengganggu pengguna jalan. "Kerja sama dengan desa, agar tidak mengganggu jalan. Dipindah ke pasar itu. Awalnya mereka mau," ucapnya. Namun, satu persatu penjual mulai enggan menempati pasari itu akibat sepi pembeli.
Totok juga menuturkan bahwa awalnya kios-kios di pasar dimiliki seseorang, namun, mereka tidak berjualan. "Lapak-lapak itu sudah ada yang punya. Kenapa kok tidak menempati. Itu dipegang orang lain. Orang model sekarang kan dia tidak berjualan, tapi berebut lapak. Ketika ada yang mau cari lapak, itu yang ditawarkan," tuturnya.
Di sisi lain, Totok mengaku bahwa sebenarnya Pasar Pujer sudah cukup untuk mengakomodasi penjual. Hanya saja, dia menyebut pemerintah waktu itu ingin memfasilitasi pedagang yang di pinggir jalan sebab hal itu membahayakan. "Kamis buka kok itu. Memang tidak seperti yang diharapkan. (Tapi) Daripada yang di pinggir jalan. Waktunya pasar hewan, banyak yang berjualan itu, ramai," pungkasnya. (hlb/bud)
Editor : M. Ainul Budi